bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Papua Athletics Center (PAC) berfungsi tidak hanya sebagai tempat latihan bagi atlet atletik asal Papua, melainkan juga sebagai contoh bahwa daerah dapat menghasilkan atlet berprestasi bila diberikan fasilitas, pelatih, dan peluang kompetisi yang memadai.
PAC dibentuk pada tahun 2022 melalui kerja sama strategis antara Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dan PT Freeport Indonesia (PTFI). Tujuannya adalah mengembangkan potensi atletik secara merata di seluruh Indonesia, sehingga tidak terkonsentrasi hanya di Pulau Jawa.
Dengan menyediakan akses pembinaan berkualitas bagi generasi muda di pelosok Papua, PAC berupaya membangun sistem regenerasi atletik yang berkelanjutan.
Menurut pelatih PAC, Prasetyo Utomo, keberadaan pusat ini sangat membantu anak‑anak Papua untuk maju lebih jauh. Ia menambahkan bahwa tim ahli gizi juga terlibat dalam mengatur pola makan para atlet demi mencapai target prestasi.
Para atlet PAC melatih diri di Mimika Sport Complex (MSC) yang berlokasi di Mimika, Papua Tengah. Kompleks olahraga ini dibangun oleh PTFI bekerja sama dengan pemerintah setempat, sehingga para atlet mendapatkan fasilitas terbaik.
MSC dirancang untuk mendukung pengembangan atlet asal Papua, dilengkapi dengan lintasan atletik, lapangan sepak bola berumput alami dan sintetis, hall basket indoor, gym, serta wisma atlet.
Manajemen PAC tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan teknis melalui latihan, tetapi juga memberikan asupan nutrisi optimal, pelatihan gizi, dan layanan sport massage. Penambahan kesempatan bertanding juga dianggap penting untuk memperkuat mental dan kepercayaan diri atlet.
Pelatih PAC, Engel Birthwiai, menjelaskan bahwa ketika atlet telah melampaui batas latihan di fasilitas ini, rasa percaya diri mereka meningkat. Namun, bila atlet belum mencapai titik maksimal dan dipaksa tampil di kompetisi luar, mereka dapat merasa minder dan kehilangan motivasi.
Pelatih lain, Ronald Letsoin, yang menangani nomor sprint dan long sprint, menegaskan pentingnya jam terbang bagi atlet Papua agar tidak merasa minder. Ia membandingkan situasi tersebut dengan sepak bola, di mana pengalaman kompetisi menentukan tingkat kepercayaan diri.
Ronald juga menyatakan bahwa keberadaan PAC telah membuat cabang atletik di Indonesia menjadi lebih merata dan diperhitungkan, termasuk kontribusi atlet Papua pada dua SEA Games terakhir serta partisipasi dalam Asian Games 2026, seperti yang ditunjukkan oleh Silfanus Niken di nomor lempar lembing.
Saat ini, PAC menangani 19 atlet dengan berbagai nomor atletik. Atlet‑atlet tersebut mengikuti turnamen baik di tingkat nasional maupun internasional, dengan fasilitas tempat tinggal, program pelatihan terstruktur, asupan gizi, dan peluang kompetisi yang disediakan oleh PAC.
Beberapa prestasi yang telah diraih meliputi Kresensia Mobok Ndiken yang memecahkan Rekor Nasional Lempar Lembing U‑20 (Wanita) dengan lemparan 44,72 meter pada Philippine Athletics Championship, serta Lina Hisage yang mencatat rekor nasional baru dalam Tolak Peluru U‑18 (Putri) dengan lemparan 14,72 meter pada 14th ASEAN Schools Games di Brunei Darussalam.
Di kategori putra, atlet Silfanus turut menorehkan prestasi yang menonjol.