bytedaily
Minggu, 18 Oktober 2026 - 01:29 WIB

Para Pakar Khawatir Pencairan Himalaya Dapat Picu Banjir Besar di Nepal

Redaksi 16 September 2026 17 views
Para Pakar Khawatir Pencairan Himalaya Dapat Picu Banjir Besar di Nepal
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Menurut laporan dari cnnindonesia.com, sekelompok pakar yang bekerja sama dengan pemerintah India mengungkapkan keprihatinan mereka atas potensi banjir bandang yang melanda Nepal sebagai awal dari proses pencairan massal di pegunungan Himalaya.

Pakar-pakar tersebut menyoroti risiko pengeringan siklus air Himalaya yang selama ini menjadi sumber utama bagi sungai-sungai di Asia Selatan. Mereka menilai bahwa fenomena ini kemungkinan besar dimulai dari banjir bandang yang sangat merusak.

Runtuhnya gletser di puncak Langtang Lirung pada 26 Agustus 2026 menjadi pemicu utama bencana banjir di Nepal. Laporan mencatat lebih dari 5.130 orang masih dinyatakan hilang dan minimal 1.386 orang telah dipastikan meninggal sejak kejadian tersebut.

Banjir tersebut menghancurkan seluruh kota, menenggelamkan pembangkit listrik tenaga air, dan mengakibatkan ratusan orang masih hilang serta puluhan korban tewas di wilayah perbatasan China. Tim penyelamat juga berupaya menemukan sekitar 900 pekerja utilitas yang terperangkap di terowongan pembangkit listrik Nepal yang runtuh.

Laporan terbaru memperingatkan bahwa puncak es Himalaya kini memasuki fase pencairan yang cepat. Diperkirakan sekitar 1.439 mil kubik (setara dengan 6.000 kilometer kubik) es glasial mencair dengan kecepatan 65 persen lebih tinggi dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Menurut Gizmodo, kajian ini disusun oleh konsultan pembangunan berkelanjutan Systemiq bersama Institut Nasional Lingkungan Himalaya Govind Ballabh Pant India, pemerintah India, serta kelompok lain yang berfokus pada penilaian kondisi Himalaya.

Riset tersebut menegaskan bahwa seluruh kawasan Himalaya menghadapi titik kritis "puncak air" pada pertengahan abad ini, yakni fase banjir yang terus meningkat sebelum pegunungan hampir mengering dan memutus pasokan air tawar ke sungai, waduk, serta pertanian di sebagian besar wilayah Asia Selatan.

Ekonom Nicholas Stern, ketua Institut Perubahan Iklim dan Lingkungan Grantham di London School of Economics serta anggota Majelis Tinggi Inggris, menyebut Himalaya sebagai "Kutub Ketiga" karena ratusan juta orang bergantung pada sumber air ini, berbeda dengan Kutub Utara atau Antartika.

Stern menekankan pentingnya es dan air dingin Himalaya bagi populasi tersebut, meskipun pendapatnya dipertanyakan oleh sebagian pihak.

Penelitian lain dari Systemiq mencatat bahwa siklus hidrologi musiman Himalaya menjadi sumber ketahanan pangan dan air bagi sekitar 2 miliar orang, melalui proses pertumbuhan dan pencairan gletser.

Menurut data yang dikutip dari Gizmodo pada 14 September, kawasan Hindu Kush Himalaya diproyeksikan dapat kehilangan hingga 80 persen volume gletser yang tersisa pada tahun 2100.

Temuan ini sejalan dengan perkiraan Pusat Internasional untuk Pengembangan Pegunungan Terpadu (ICIMOD). Salah satu aspek paling mengkhawatirkan adalah potensi terjadinya bencana besar yang dapat menelan banyak korban jiwa, mengingat hanya sekitar 21 dari 40.000 gletser di Himalaya dan Pegunungan Karakoram yang dipantau secara terperinci oleh para ilmuwan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.