bytedaily
Senin, 21 September 2026 - 13:43 WIB

PBB Akui Peta Baru Usai Uni Afrika 'Gugat' Peta Mercator

Redaksi 05 September 2026 7 views
PBB Akui Peta Baru Usai Uni Afrika 'Gugat' Peta Mercator
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menyetujui resolusi yang diusulkan oleh negara-negara anggota Uni Afrika (AU). Resolusi yang dinamakan 'The Correct Map' ini bertujuan untuk mengoreksi penggunaan Peta Mercator yang telah mendominasi persepsi ukuran benua selama lebih dari 450 tahun.

Melalui pemungutan suara, PBB kini akan secara resmi mengakui peta baru yang menggambarkan ukuran benua Afrika secara proporsional. Keputusan ini mendorong pemerintah, institusi pendidikan, dan perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk menghentikan penggunaan Peta Mercator yang selama ini menampilkan Afrika tampak jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya.

Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Peta Mercator diciptakan oleh kartografer Gerardus Mercator pada pertengahan abad ke-16. Peta ini merupakan proyeksi silindris yang dirancang untuk memudahkan navigasi maritim dengan menggambarkan garis haluan, lintang, dan bujur sebagai garis lurus yang saling berpotongan tegak lurus.

Namun, proyeksi Mercator memiliki kelemahan dalam mendistorsi ukuran relatif daratan, terutama di wilayah yang mendekati kutub. Akibatnya, daratan di dekat kutub tampak jauh lebih besar. Sebagai contoh, Peta Mercator seringkali menampilkan Greenland dengan ukuran yang hampir sama dengan Afrika, padahal Afrika memiliki luas sekitar 14 kali lebih besar dari Greenland.

Universitas Harvard menjelaskan bahwa distorsi ini terjadi karena cara proyeksi dibuat, di mana bayangan benua dari bola dunia diproyeksikan ke layar silinder. Akibatnya, daratan yang jauh dari khatulistiwa tampak membesar secara signifikan.

Beberapa kritikus, seperti yang dikutip dari Aljazeera, berpendapat bahwa Peta Mercator terus digunakan karena secara visual melebih-lebihkan ukuran negara-negara Barat, yang dianggap dapat melanggengkan gagasan superioritas Eropa. Menteri Luar Negeri Togo, Robert Dussey, menyatakan bahwa 'Dunia yang adil dimulai dengan peta yang adil,' menjelang pemungutan suara di PBB.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.