bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, pemerintah melanjutkan pengembangan hilirisasi dengan meluncurkan tahap komersial empat proyek dan memulai pembangunan tujuh proyek baru di sektor nikel. Sebanyak 11 proyek itu memiliki nilai investasi US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun dan diharapkan memperkuat industri pengolahan serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek-proyek tersebut di Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden. Dalam kegiatan yang sama, Prabowo melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik.
Empat proyek yang mulai memasuki tahap komersialisasi mencakup pengolahan mixed hydroxide precipitate (MHP), material baterai kendaraan listrik jenis nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP), kapasitor aluminium elektrolitik, serta komponen alat berat berbasis kendaraan listrik.
Adapun tujuh proyek baru meliputi pengembangan material dan komponen baterai kendaraan listrik, industri aluminium, kendaraan berat berbasis listrik, dan photovoltaic glass untuk mendukung industri energi surya.
Airlangga menyatakan hilirisasi ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri nasional, menarik investasi, dan membuka lapangan kerja. Ia menilai koordinasi kebijakan dari sektor hulu hingga hilir diperlukan agar investasi berkelanjutan dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat.
IWIP mulai dibangun pada 2018 dan berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan nikel terintegrasi di Indonesia. Hingga Juni 2025, realisasi investasi di kawasan tersebut tercatat US$15 miliar, dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100.000 orang, termasuk pekerja kontraktor.
Laporan tersebut menyebut ekonomi Maluku Utara tumbuh 15,35 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, tertinggi secara nasional. Industri pengolahan menyumbang 48,93 persen terhadap produk domestik regional bruto daerah.
Pemerintah menilai pengembangan kawasan industri perlu disertai diversifikasi produk hilir, penguatan rantai pasok domestik, serta pengembangan industri pendukung, termasuk baterai kendaraan listrik, aluminium, kendaraan berat berbasis listrik, dan komponen energi surya.