bytedaily
Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

Peneliti Militer China Latih AI Pertahanan Gunakan Output Model AI AS

Redaksi 03 Agustus 2026 9 views
Peneliti Militer China Latih AI Pertahanan Gunakan Output Model AI AS
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, peneliti militer China dilaporkan memanfaatkan keluaran dari model kecerdasan buatan (AI) yang diciptakan oleh OpenAI dan Anthropic. Tujuannya adalah untuk melatih sistem AI domestik guna meningkatkan kapabilitas pertahanan negara.

Temuan ini terungkap dari penelusuran Reuters terhadap lebih dari 80 makalah akademik dan paten China. Hasil investigasi yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya ini memberikan gambaran mengenai bagaimana lembaga militer dan keamanan China menggunakan model AI canggih dari Amerika Serikat sebagai jalan pintas untuk mengembangkan sistem AI mereka sendiri, terutama mengingat pembatasan akses China terhadap chip canggih dan teknologi strategis lainnya oleh AS.

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan penggunaan teknik yang dikenal sebagai 'model distillation'. Metode ini melibatkan penggunaan hasil dari sistem AI yang sudah ada untuk melatih model yang lebih kecil dan spesifik. Dengan cara ini, model yang lebih kecil dapat dijalankan secara lokal tanpa memerlukan sumber daya komputasi besar yang dibutuhkan untuk membangun sistem AI canggih dari awal.

Penelusuran Reuters, yang juga merujuk pada riset dari Jamestown Foundation, mengindikasikan bahwa teknik distilasi ini banyak digunakan oleh peneliti yang terafiliasi dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan lembaga militer lainnya. Makalah-makalah tersebut menyiratkan bahwa lembaga pertahanan China melihat model AI terkemuka AS tidak hanya sebagai sumber pengetahuan teknis, tetapi juga sebagai cara untuk mengurangi kesenjangan teknologi dengan Amerika Serikat.

Isu ini menjadi krusial menjelang perundingan tata kelola dan keamanan AI antara AS dan China. Pejabat AS menuding beberapa entitas China menggunakan teknik distilasi untuk menyerap kemampuan dari model AI Amerika, yang berpotensi melanggar kontrol ekspor dan hak kekayaan intelektual. Pihak China membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa AS sedang menerapkan 'hegemoni' AI, sambil berargumen bahwa perusahaan-perusahaan AS juga melakukan praktik serupa.

Pengembang AI asal China juga telah membantah klaim bahwa kemajuan AI mereka bergantung pada model asing. Startup AI Moonshot, misalnya, pekan lalu membantah tuduhan pemerintahan Donald Trump terkait model Kimi K3 mereka yang disebut dibangun menggunakan metode distilasi, dengan menegaskan bahwa model tersebut merupakan hasil inovasi mandiri.

Sunny Cheung, seorang peneliti di Jamestown Foundation yang menganalisis lebih dari 60 makalah, menyatakan bahwa para ilmuwan militer China secara sistematis mengambil alur penalaran dari model-model Barat untuk diadaptasi bagi keperluan pengawasan, perang siber, dan pengambilan keputusan taktis. Cheung menjelaskan kepada Reuters bahwa mengajari model AI untuk memberikan jawaban yang benar adalah satu hal, namun mengajarkan alur penalaran di balik jawaban tersebut jauh lebih sulit. Makalah-makalah tersebut menunjukkan upaya para peneliti yang terhubung dengan militer China untuk memindahkan alur penalaran yang mahal dan bersifat hak milik dari model-model Barat ke dalam sistem yang lebih kecil yang dapat mereka kendalikan dan jalankan secara lokal.

Reuters telah memverifikasi literatur akademik tersebut dan mengidentifikasi 24 studi kasus tambahan yang berkaitan dengan militer.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.