bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Penerbangan Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau

Redaksi 06 September 2026 8 views
Penerbangan Ditutup Sementara Akibat Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, delapan bandar udara di Indonesia, mulai dari Bandara Soekarno‑Hatta hingga Bandara Radin Inten II Lampung, menghentikan operasi sementara pada Minggu 6 September karena erupsi Gunung Anak Krakatau yang menghasilkan abu vulkanik.

BMKG menjelaskan bahwa abu yang terbentuk saat letusan gunung berapi merupakan partikel halus yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer, sehingga berpotensi mengganggu kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, lingkungan, serta sektor transportasi termasuk penerbangan.

Dalam unggahan Instagramnya, BMKG menguraikan bahwa abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam; bila masuk ke mesin pesawat yang beroperasi pada suhu tinggi, partikel tersebut dapat meleleh, menyumbat, dan menyebabkan mesin mati.

Selain risiko pada mesin, abu juga dapat mengaburkan kaca kokpit karena gesekan partikel yang bersifat abrasif, sehingga jarak pandang pilot berkurang. Abu vulkanik juga dapat menutup sensor kecepatan dan ketinggian, mengganggu akurasi data navigasi pesawat.

BMKG menegaskan bahwa abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran kurang dari 2 mm. Analisis citra satelit Himawari‑9 pada pukul 12.00 WIB, 6 September, serta data PVMBG dan VAAC Darwin menunjukkan dua arah penyebaran abu: satu ke timur laut‑selatan yang meliputi sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan sekitarnya; dan satu lagi ke barat daya‑barat laut yang mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.