bytedaily
Sabtu, 30 Mei 2026 - 23:07 WIB

Pengembang Tolak Bekerja Tanpa AI, Potensi Masalah Jangka Panjang

Redaksi 30 Mei 2026 4 views
Pengembang Tolak Bekerja Tanpa AI, Potensi Masalah Jangka Panjang
Ilustrasi visual (Sumber: techcrunch.com)

bytedaily - Dilansir dari techcrunch.com, para pengembang perangkat lunak kini semakin bergantung pada alat bantu kecerdasan buatan (AI) dalam pekerjaan mereka. Sebuah studi dari laboratorium riset AI terkemuka, METR, yang dirilis pada Februari 2026, mengungkapkan bahwa sebagian besar pengembang enggan melakukan tugas, bahkan yang terbatas, tanpa bantuan AI.

Ketergantungan ini muncul meskipun penelitian METR sebelumnya pada tahun 2025 menunjukkan hasil yang mengejutkan. Dalam studi tersebut, pengembang melaporkan peningkatan produktivitas dengan AI, namun secara mengejutkan, waktu penyelesaian tugas justru bertambah. Hal ini disebabkan oleh waktu tambahan yang dihabiskan untuk mencari dan memperbaiki kesalahan, mengarahkan AI, serta menunggu prosesnya selesai.

Ketika METR mencoba mengulang eksperimen untuk mengukur kemajuan AI dan kemampuan pengembang, mereka menghadapi kendala. Para pengembang menolak untuk berpartisipasi dalam studi yang mengharuskan mereka bekerja tanpa AI, bahkan untuk jangka waktu singkat. Sebagai gantinya, METR menerbitkan survei pada Mei 2026 di mana karyawan teknis melaporkan sendiri peningkatan produktivitas mereka berkat AI, dengan persepsi bahwa AI membuat mereka dua kali lebih bernilai bagi organisasi.

Namun, persepsi ini mulai diragukan oleh beberapa laporan terbaru. Fenomena 'tokenmaxxing', yang mengukur produktivitas AI berdasarkan jumlah token yang digunakan, menjadi tren di tahun 2026 namun tampaknya akan segera berakhir. Amazon dilaporkan menutup papan peringkat pelacakan token internalnya, Kirorank, setelah karyawan memanipulasinya dengan penggunaan agen AI yang berlebihan, yang mengakibatkan biaya membengkak. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan AI tidak secara otomatis meningkatkan produktivitas.

Uber juga menghabiskan seluruh anggaran AI 2026 mereka dalam empat bulan pertama tahun ini. COO Andrew Macdonald menyatakan bahwa pengeluaran tersebut tidak menghasilkan peningkatan proyek atau produktivitas yang terukur. Selain itu, kode yang dihasilkan AI tidak selalu mengurangi kebutuhan pemeliharaan kode, bahkan berpotensi meningkatkannya. Programmer dan penulis James Shore berargumen dalam sebuah posting blog yang viral, "Anda menulis kode dua kali lebih cepat sekarang? Lebih baik berharap Anda telah mengurangi separuh biaya pemeliharaan Anda. Jika tidak, Anda tamat. Anda menukar percepatan sementara untuk perbudakan permanen."

Bukti lain yang mendukung potensi peningkatan masalah pemeliharaan kode akibat AI datang dari Aiswarya Sankar, pendiri dan CEO startup Entelligence AI. Ia menyatakan bahwa perusahaan menghabiskan 44% dari token mereka untuk perbaikan bug yang dihasilkan oleh AI. Sementara itu, perusahaan alat peninjau kode CodeRabbit menganalisis permintaan tarik (pull requests) sumber terbuka dan menemukan bahwa AI menghasilkan 1,7 kali lebih banyak masalah dibandingkan kode buatan manusia.

Meskipun angka-angka ini berasal dari pihak yang berkepentingan menjual alat peninjau kode AI, para peneliti independen juga menemukan temuan serupa.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi techcrunch.com.