bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Penjelasan Lava Fountain pada Erupsi Anak Krakatau

Redaksi 07 September 2026 20 views
Penjelasan Lava Fountain pada Erupsi Anak Krakatau
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mengeluarkan semburan lava berwarna merah menyala pada Jumat (4/9) malam, yang disebut sebagai lava fountain atau air mancur lava.

Menurut United States Geological Survey (USGS), lava fountain terjadi ketika magma yang mengandung gas tertekan meluncur ke udara dari kawah, membentuk pancaran menyerupai air mancur dengan warna merah‑oranye yang tampak jelas pada kondisi gelap.

Prosesnya dimulai ketika magma naik ke permukaan, membawa gas di dalamnya. Tekanan gas tersebut mendorong magma keluar melalui saluran erupsi; bila tekanan cukup kuat, lava tidak hanya mengalir, melainkan juga terlempar ke udara.

Material yang terlempar kembali jatuh di sekitar kawah atau mengalir sebagai aliran lava, dan karena suhu yang sangat tinggi material tersebut tetap menyala saat terangkat.

Badan Geologi mencatat bahwa lava fountain yang terlihat pada aktivitas Anak Krakatau juga disertai aliran lava, dan erupsi berkelanjutan selama beberapa jam dengan fenomena ini merupakan pola umum pada beberapa gunung berapi.

USGS menambahkan bahwa lava fountain biasanya berkaitan dengan magma basaltik yang relatif encer, sehingga gas dan magma dapat bergerak lebih mudah ke permukaan dan menghasilkan semburan yang kuat.

Fenomena lava fountain muncul selama erupsi Anak Krakatau yang dimulai pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari, dengan pukul 23.07 WIB tercatat suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat.

Aktivitas erupsi Anak Krakatau telah berlangsung sejak 2 Juli 2026 dan gunung api tersebut masih berada pada status Level III (Siaga). Badan Geologi kembali mencatat erupsi pada Minggu (6/9) pukul 03.53 WIB, yang terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi 30 detik.

Material vulkanik yang dikeluarkan menyebabkan penyebaran abu hingga Jakarta, mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Soekarno‑Hatta pada hari yang sama. Lontaran material juga melaporkan kerusakan pada kamera pemantauan dan CCTV di sekitar kawah.

Menanggapi status Level III, BNPB bersama PVMBG menyarankan masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk menghindari area dengan radius tiga kilometer dari kawah aktif.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.