bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, pada malam Jumat (4 September) Gunung Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda memancarkan semburan lava berwarna merah menyala yang dikenal sebagai lava fountain atau air mancur lava.
US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa lava fountain terjadi ketika magma yang mengandung gas tertekan kuat sehingga material lava terlempar ke udara, membentuk pancaran menyerupai air mancur dan menampilkan warna merah‑oranye terutama pada kondisi gelap.
Proses ini dimulai ketika magma naik ke permukaan bersama gas‑gas yang terlarut di dalamnya; tekanan gas kemudian mendorong magma keluar melalui saluran erupsi. Bila tekanan cukup besar, lava tidak hanya mengalir, tetapi juga terlempar ke udara.
Material yang terlempar akan kembali jatuh di sekitar kawah atau membentuk aliran lava baru, dan karena suhu yang sangat tinggi, material tersebut tetap menyala saat berada di udara.
Badan Geologi mencatat bahwa lava fountain yang terlihat pada aktivitas Anak Krakatau juga disertai aliran lava, dan erupsi berkelanjutan selama beberapa jam dengan lava fountain merupakan pola umum pada gunung berapi tertentu.
USGS menambahkan bahwa lava fountain biasanya berhubungan dengan magma basaltik yang relatif encer, sehingga gas dan magma dapat bergerak lebih mudah ke permukaan dan menghasilkan semburan lava.
Fenomena lava fountain muncul kembali pada erupsi Anak Krakatau yang berlangsung dari Jumat malam (4 September) hingga Sabtu dini hari (5 September). Erupsi dimulai pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga wilayah Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
Aktivitas erupsi Anak Krakatau telah berlangsung sejak 2 Juli 2026 dan gunung tersebut masih berada pada status Level III (Siaga).
Badan Geologi juga melaporkan erupsi tambahan pada Minggu (6 September) pukul 03.53 WIB, tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 46 milimeter dan durasi sekitar 30 detik.
Erupsi tersebut menghasilkan abu vulkanik yang menyebar hingga Jakarta, mengganggu penerbangan di Bandara Internasional Soekarno‑Hatta pada hari yang sama. Selain abu, material yang terlontar juga dilaporkan merusak perangkat kamera pemantauan atau CCTV di sekitar kawasan gunung.
Menanggapi kondisi Level III (Siaga), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama PVMBG menyarankan agar masyarakat, nelayan, dan wisatawan menghindari area dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.