bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa erupsi beruntun pada lima gunung berapi baru-baru ini merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari mengingat posisi Indonesia yang terletak di zona Ring of Fire.
Ia menambahkan bahwa negara sedang menghadapi serangkaian bencana alam besar, mulai dari gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. "Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, Ring of Fire, sehingga kita harus selalu siap menghadapi situasi semacam ini," ujar Prabowo dalam rapat terbatas daring pada Senin (7/9). Presiden juga menekankan perlunya peningkatan alokasi anggaran untuk mitigasi bencana.
Menurut Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA), Ring of Fire terbentuk karena interaksi lempeng tektonik, khususnya pada zona subduksi di mana satu lempeng lebih berat terdorong ke bawah lempeng lain. Proses ini memicu pencairan batuan menjadi magma yang kemudian naik dan meletus sebagai gunung berapi.
Zona subduksi tersebut juga menjadi lokasi palung laut terdalam serta sumber gempa bumi dalam. Gempa terjadi ketika dua lempeng bergesekan atau ketika lempeng yang sedang menyelam mengalami tekukan.
Data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan bahwa mayoritas gempa bumi dan letusan gunung berapi tidak terjadi secara acak, melainkan terpusat di sepanjang batas lempeng tektonik. Salah satu wilayah konsentrasi utama adalah Ring of Fire, tempat Lempeng Pasifik bertemu dengan sejumlah lempeng lain, menjadikannya area dengan aktivitas kegempaan dan vulkanik tinggi.
Ring of Fire mencakup lebih dari 450 gunung berapi dan membentang sekitar 40.250 kilometer dalam bentuk tapal kuda, melintasi ujung selatan Amerika Selatan, pantai barat Amerika Utara, Selat Bering, Jepang, hingga Selandia Baru.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa rangkaian gempa di kawasan Pasifik tidak serta-merta menandakan peningkatan aktivitas seismik di Cincin Api. Berdasarkan data USGS, sekitar 500.000 gempa terdeteksi di seluruh dunia setiap tahun, termasuk yang sangat lemah sekalipun. Karena Cincin Api menyumbang sekitar 90 persen dari total tersebut, diperkirakan terjadi sekitar 450.000 gempa di wilayah ini tiap tahun atau kira-kira 1.200 gempa per hari.
Daryono menjelaskan bahwa persepsi publik tentang peningkatan aktivitas Cincin Api biasanya dipicu oleh fenomena klasterisasi waktu—beberapa gempa signifikan yang terjadi berdekatan—serta kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial, yang memungkinkan gempa di daerah terpencil diketahui publik dalam hitungan menit.