bytedaily
Senin, 21 September 2026 - 21:51 WIB

Pertamina Hadirkan Inovasi Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah di IdeaFest 2026

Redaksi 06 September 2026 5 views
Pertamina Hadirkan Inovasi Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah di IdeaFest 2026
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, PT Pertamina (Persero) menampilkan inovasi terbarunya, yaitu Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan, dalam gelaran IdeaFest 2026. Salah satu bahan baku utama yang digunakan untuk SAF ini adalah minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO).

Melalui stan yang disiapkan di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Pertamina mengajak pengunjung untuk memahami proses minyak jelantah dari tahap pengumpulan hingga menjadi bahan baku SAF. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana partisipasi masyarakat dalam kegiatan sederhana dapat berkontribusi pada pengembangan ekosistem energi rendah karbon.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menjelaskan bahwa pengembangan SAF merupakan langkah strategis perusahaan dalam upaya transisi energi dan penguatan kemandirian energi nasional. Ia menegaskan bahwa bahan bakar ini aman untuk pesawat udara, mengingat risetnya telah dimulai sejak 2015 dan melalui uji coba ketat dari 2021 hingga 2025.

Pemanfaatan SAF berbasis minyak jelantah ini telah diaplikasikan pada penerbangan Pelita Air Service, anak usaha Pertamina, untuk rute Jakarta-Bali. Hal ini membuktikan bahwa inovasi energi rendah karbon dapat bersumber dari material yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

SAF Project Commercial PT Pertamina Patra Niaga, Ibrahim Akbar, mengungkapkan bahwa konsep pemanfaatan minyak jelantah menarik perhatian besar dari pengunjung IdeaFest. Ia mencatat tingginya antusiasme pengunjung yang sebagian besar merupakan generasi muda, sehingga Pertamina memiliki kesempatan untuk memperkenalkan konsep transisi energi dengan cara yang lebih relevan.

Masyarakat tidak hanya diajak memahami inovasi ini, tetapi juga berperan aktif dalam pengumpulan minyak jelantah sebagai bahan baku. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan berpartisipasi dalam program ini untuk mengumpulkan minyak jelantah dalam jumlah yang lebih besar.

Ibrahim menambahkan bahwa pengembangan ekosistem SAF memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Selain aspek teknologi, tantangan yang dihadapi meliputi disparitas harga, mekanisme pengumpulan minyak jelantah, serta dukungan regulasi. Keterlibatan masyarakat dinilai krusial dalam memperkuat rantai pasok UCO.

Lebih lanjut, ia berharap agar program pembelian minyak jelantah yang sudah berjalan dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat, sehingga volume minyak jelantah yang terkumpul dapat meningkat secara signifikan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.