bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 03:10 WIB

Petir Vulkanik Akibat Erupsi Anak Krakatau: Penjelasan BMKG dan Mekanisme Ionisasi

Redaksi 08 September 2026 3 views
Petir Vulkanik Akibat Erupsi Anak Krakatau: Penjelasan BMKG dan Mekanisme Ionisasi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena sekunder pasca erupsi Gunung Anak Krakatau berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik pada tanggal 6 September.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa intensitas gangguan geomagnetik yang berhubungan dengan sambaran petir vulkanik meningkat, meski belum mencapai level saat letusan awal. Ia menambahkan bahwa sensor di Lampung Selatan dan Serang mendeteksi gangguan geomagnetik yang berirama dengan peningkatan petir vulkanik selama 12 jam terakhir.

Proses terbentuknya petir vulkanik tidak berbeda secara mendasar dengan petir pada awan cumulus biasa. Pada petir konvensional, ionisasi terjadi ketika uap air naik, membeku menjadi butiran es, dan kemudian butiran es tersebut bertabrakan dengan partikel lain di dalam awan. Tumbukan ini memisahkan muatan listrik, menghasilkan muatan positif di puncak awan dan muatan negatif di dasar awan, yang selanjutnya menimbulkan beda potensial hingga ratusan juta volt dan memicu sambaran petir.

Petir vulkanik muncul karena ionisasi yang terjadi di dalam awan letusan, yang berisi uap air, abu, debu, serta partikel vulkanik lainnya. Suhu tinggi erupsi, diperkirakan sekitar 1.227 °C, menyebabkan atom‑atom debu netral terionisasi menjadi ion positif dan negatif dalam jumlah besar.

Perbedaan ukuran dan berat partikel di dalam abu vulkanik berperan penting. Ion negatif cenderung lebih besar dan lebih berat, sehingga bergerak lebih lambat dibanding ion positif yang lebih ringan. Perbedaan kecepatan dan ukuran ini memisahkan muatan positif dan negatif, menciptakan beda potensial listrik yang cukup untuk menimbulkan sambaran petir. Selain itu, partikel yang lebih besar jatuh lebih cepat karena gaya gravitasi, dan tumbukan antarpartikel (aerodynamic sorting) juga dapat memicu ionisasi yang menghasilkan petir vulkanik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.