bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 03:02 WIB

Petir Vulkanik Terjadi Setelah Erupsi Anak Krakatau, BMKG Jelaskan Mekanismenya

Redaksi 08 September 2026 18 views
Petir Vulkanik Terjadi Setelah Erupsi Anak Krakatau, BMKG Jelaskan Mekanismenya
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat munculnya fenomena sekunder pasca erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September, yakni gangguan geomagnetik dan petir vulkanik.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa intensitas gangguan geomagnetik yang berhubungan dengan petir vulkanik meningkat, meskipun belum mencapai puncak seperti saat letusan pertama. Sensor yang dipasang di Lampung Selatan dan Serang melaporkan adanya gangguan yang selaras dengan peningkatan sambaran petir selama 12 jam terakhir, menurut situs resmi BMKG.

Proses terbentuknya petir vulkanik tidak jauh berbeda dengan proses pembentukan petir pada umumnya, yaitu pemisahan muatan listrik menjadi ion positif dan negatif di dalam awan.

Pada awan cumulonimbus, pemisahan muatan terjadi karena perubahan fase dan pergerakan partikel air. Uap air yang naik ke lapisan atmosfer atas membeku menjadi kristal es; kristal es yang jatuh kemudian bertabrakan secara masif dengan partikel lain di dalam awan, memicu ionisasi atom atau molekul.

Ionisasi tersebut melepaskan elektron yang terkumpul di dasar awan, sehingga bagian atas awan menjadi bermuatan positif dan bagian bawah bermuatan negatif. Muatan negatif di dasar awan menginduksi muatan positif pada permukaan tanah, menciptakan beda potensial hingga 100 juta volt. Ketika beda potensial ini melampaui tahanan udara, terjadi pelepasan listrik yang dikenal sebagai petir.

Petir vulkanik muncul karena ionisasi yang terjadi di dalam kolom letusan gunung berapi, yang berisi uap air, abu, debu, serta partikel vulkanik lainnya. Kombinasi suhu tinggi, perbedaan ukuran, massa, dan kecepatan jatuh partikel-partikel tersebut memicu proses ionisasi.

Menurut situs BPBD, suhu erupsi dapat mencapai sekitar 1.227 °C, yang cukup panas untuk mengionisasi atom-atom abu netral sehingga terbentuk ion positif dan negatif dalam jumlah besar. Ion negatif umumnya berukuran lebih besar dan lebih berat dibandingkan ion positif, sehingga bergerak lebih lambat. Perbedaan ukuran dan kecepatan ini memisahkan muatan positif dan negatif di dalam abu, menghasilkan beda potensial listrik yang memicu sambaran petir.

Selain itu, partikel yang lebih besar dan lebih berat akan jatuh lebih cepat karena gaya gravitasi, sementara tumbukan antarpartikel (aerodynamic sorting) juga dapat memperkuat ionisasi, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya petir vulkanik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.