bytedaily
Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:24 WIB

PLN Cari Lahan Pemerintah untuk Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi

Redaksi 21 Agustus 2026 3 views
PLN Cari Lahan Pemerintah untuk Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, PT PLN (Persero) tengah melakukan seleksi terhadap lahan milik kementerian yang dinilai berpotensi untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS). Kriteria pemilihan lahan tidak hanya mencakup ketersediaan area yang memadai, tetapi juga kedekatan dengan pusat-pusat konsumsi listrik.

Menurut Manager of Various Renewable Energy PT PLN (Persero) Head Office, Fandi Gunawan Sianipar, PLN telah menjalin koordinasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Kehutanan mengenai kebutuhan lahan ini. Fandi menyatakan bahwa Kementerian ATR/BPN telah menyediakan data lahan milik kementerian yang dapat dimanfaatkan untuk proyek PLTS yang dilengkapi BESS.

Fandi menjelaskan bahwa pembangunan PLTS berskala utilitas memerlukan lahan yang luas. Namun, lokasi pembangkit juga harus strategis agar penyaluran energi ke pusat beban listrik berjalan optimal. Ia mengakui bahwa sebagian lahan yang teridentifikasi berada di daerah pegunungan dan cukup jauh dari pusat beban, sehingga memerlukan proses penyaringan lebih lanjut dan belum banyak yang memenuhi kriteria tersebut.

Selain mengoptimalkan lahan darat, PLN juga menjajaki berbagai alternatif lain untuk meningkatkan kapasitas PLTS. Inovasi yang dilakukan meliputi pembangunan PLTS terapung, pemanfaatan virtual power plant (VPP), dan pengembangan pembangkit listrik tersebar atau distributed generation.

Fandi menambahkan bahwa pengembangan PLTS Mentari Nusantara I juga akan dilengkapi dengan BESS yang terintegrasi. Sistem ini bertujuan untuk meminimalkan dampak intermitensi produksi listrik tenaga surya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Di samping itu, PLN juga mengembangkan teknologi smart grid untuk meningkatkan fleksibilitas jaringan listrik, yang memungkinkan pengalihan aliran listrik jika terjadi gangguan.

Tantangan yang dihadapi PLN, menurut Fandi, salah satunya terkait aspek regulasi, khususnya mengenai pemanfaatan BESS untuk fungsi load shifting yang saat ini belum diatur secara spesifik. Pemerintah sedang berupaya mempercepat program PLTS 100 GW guna memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi energi nasional. Program ini telah dimasukkan dalam revisi RUPTL PLN 2025-2034, dengan tahap awal direncanakan di Bali.

Dalam RUPTL PLN 2025-2034 yang telah disahkan, PLN menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Kapasitas ini terdiri dari 42,6 GW energi baru terbarukan (EBT), 10,3 GW sistem penyimpanan energi, dan 16,6 GW pembangkit fosil. PLTS diproyeksikan menjadi sumber EBT dengan tambahan kapasitas terbesar, yaitu 17,1 GW. RUPTL ini membuka peluang investasi senilai Rp2.967,4 triliun, yang meliputi investasi pembangkit sebesar Rp2.133,7 triliun dan penyaluran.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.