bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, para pakar memprediksi bahwa fenomena El Nino tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam kurun waktu 150 tahun terakhir. Sejumlah model prakiraan menunjukkan bahwa El Nino kali ini dapat melampaui seluruh rekor yang pernah tercatat sebelumnya.
Zeke Hausfather, seorang ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, mengemukakan bahwa proyeksi terbaru mengindikasikan puncak El Nino kali ini akan melebihi rekor tertinggi sebelumnya. Analisisnya terhadap 14 model prakiraan musiman menunjukkan risiko lonjakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik mencapai sekitar 3,6°C di atas rata-rata. Angka ini lebih tinggi 0,8°C dibandingkan rekor Super El Nino pada periode 2015-2016.
Hausfather menjelaskan bahwa selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5°C. "Model-model saat ini sedang memprediksikan sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan apa pun yang pernah kita amati sebelumnya," ujarnya.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat secara resmi telah menyatakan dimulainya fase El Nino pada bulan Juni. Seiring menguatnya fenomena ini, lautan diperkirakan akan menyalurkan lebih banyak panas ke atmosfer, dengan puncak suhu permukaan laut diprediksi terjadi antara bulan November hingga Februari. Dampak kenaikan suhu global yang paling signifikan umumnya baru akan terasa pada tahun berikutnya, mengingat puncak fenomena terjadi menjelang akhir tahun.
Hausfather menambahkan bahwa kombinasi El Nino tahun ini dengan krisis iklim yang sedang berlangsung berpotensi mendorong kenaikan rata-rata suhu global hingga 1,7°C di atas rata-rata era pra-industri pada tahun 2027. Lonjakan ini diperkirakan akan melampaui ambang batas 1,5°C yang disepakati dalam Perjanjian Paris. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dan sebelumnya batas tersebut terlewati pada tahun tersebut.
Menurut Hausfather, terdapat peluang sekitar 28 persen bagi tahun 2026 untuk menggeser tahun 2024 sebagai tahun terpanas, sebelum nantinya berpotensi terlampaui lagi oleh tahun 2027.
Dari dalam negeri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi El Nino tahun ini akan lebih kuat dibandingkan fenomena pada tahun 2023. Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menyatakan bahwa sejumlah pakar iklim memprediksi pemanasan suhu akibat El Nino bisa mencapai lebih dari 2 derajat Celsius. Ia membandingkan intensitas El Nino 2023 yang mencapai 1,6 derajat Celsius dengan kondisi saat ini yang sudah mencapai 1,74 derajat Celsius berdasarkan pantauan satelit.
"Itu sudah melampaui ambang batas El Nino 2023, dan ini belum stop di sini, ini masih merangkak naik begitu dan diprediksi Agustus akan mencapai threshold atau ambang batas di atas 2 (derajat Celsius). Jika El Nino mencapai 2 atau lebih dari 2, maka itu disebut dengan super," jelas Erma dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV, Minggu (26/7).
Kategori El Nino super tercatat pernah terjadi dua kali sepanjang sejarah, yaitu pada tahun 1997 dan 2015. Namun, fenomena El Nino tahun ini diprediksi akan lebih kuat dari kedua peristiwa tersebut. Dibandingkan dengan peristiwa tahun 2023, dampak El Nino kali ini diperkirakan akan lebih parah karena intensitasnya sudah melampaui tahun sebelumnya dan masih berpotensi menjadi lebih panas.