bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:27 WIB

Profil BDx, Operator Pusat Data di Balik Proyek AI Jatiluhur

Redaksi 05 Oktober 2026 19 views
Profil BDx, Operator Pusat Data di Balik Proyek AI Jatiluhur
Ilustrasi visual (Sumber referensi: tekno.sindonews.com)

bytedaily - Melansir laporan dari tekno.sindonews.com, proyek pusat data kecerdasan buatan (AI) AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur, Purwakarta, dihentikan sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Proyek berkapasitas 640 megawatt itu milik BDx Data Centers dan disebut bernilai Rp3,5 triliun. Pembangunan dihentikan setelah inspeksi pada 28 September karena dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG) belum terbit.

BDx, singkatan dari Big Data Exchange, merupakan operator pusat data yang berkantor pusat di Singapura. Berdiri pada 2019, perusahaan ini dibentuk untuk mengelola sejumlah aset pusat data investor di Hong Kong serta proyek baru di Nanjing, China. BDx dimiliki I Squared Capital, perusahaan ekuitas swasta infrastruktur asal Amerika Serikat yang berdiri pada 2012.

Mayank Srivastava menjabat CEO BDx sejak April 2023. Ia ikut mendirikan perusahaan tersebut dan sebelumnya memimpin strategi serta merger dan akuisisi, kemudian menjadi Chief Development Officer. CEO pertama BDx adalah Braham Singh, yang memimpin ekspansi perusahaan ke Indonesia pada 2022.

BDx menawarkan layanan kolokasi, pembangunan pusat data sesuai kebutuhan pelanggan, layanan terkelola, dan cloud hibrida. Perusahaan menyebut memiliki 18 pusat data yang beroperasi atau telah terkontrak serta 50 situs edge di Singapura, Indonesia, Hong Kong, dan Taiwan. BDx juga menyatakan memiliki dua lahan siap daya dengan kapasitas jaringan lebih dari 1,2 GVA, berdasarkan keterangan perusahaan pada Juni 2026.

BDx masuk ke Indonesia pada Mei 2022 melalui perusahaan patungan senilai USD300 juta dengan PT Indosat Tbk dan PT Aplikanusa Lintasarta. Usaha patungan bernama BDx Indonesia itu kini dipimpin CEO Agus Hartono Wijaya. Pada 2024, BDx Indonesia mengambil alih portofolio pusat data dan situs edge Indosat di Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, Makassar, Bandung, dan Semarang. Portofolio tersebut mencakup sepuluh situs yang terhubung dengan enam kabel laut domestik dan lima kabel laut internasional.

Menurut laporan tersebut, saat beroperasi pada kapasitas penuh, pusat data Jatiluhur diperkirakan membutuhkan air 384 liter per detik dari sistem Waduk Jatiluhur. Sumber yang sama menyebut kebutuhan listriknya lebih dari tiga kali kapasitas PLTA Jatiluhur.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media tekno.sindonews.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.