bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Ribuan Gempa Susulan di NTT, Ahli Jelaskan Proses Alamiah Bumi

Redaksi 22 Agustus 2026 2 views
Ribuan Gempa Susulan di NTT, Ahli Jelaskan Proses Alamiah Bumi
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus diguncang oleh ribuan gempa susulan pascagempa utama M7,7 di Flores. Hingga Sabtu (22/8) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 5.012 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.

Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 31 gempa tercatat memiliki magnitudo di atas 5, sementara 124 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. BMKG juga melaporkan magnitudo terkecil yang tercatat adalah 1,1.

Menjawab pertanyaan mengenai penyebab terus terjadinya gempa susulan dalam jumlah besar, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari proses alamiah bumi untuk mencapai keseimbangan kembali pascagempa utama.

Daryono memaparkan, gempa utama terjadi ketika energi pada retakan batuan atau patahan melebihi batas elastisitasnya, menyebabkan batuan patah dan bergeser. Namun, patahan yang mengalami robekan besar tidak langsung stabil. Titik-titik tegangan yang tersisa memicu pergeseran batuan di sekitarnya.

"Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru," jelas Daryono. Fenomena ini, yang dikenal melalui Hukum Omori-Utsu, menunjukkan bahwa frekuensi gempa susulan akan menurun seiring waktu, dengan jumlah terbanyak terjadi pada hari-hari awal setelah gempa utama.

Meskipun frekuensinya menurun, Daryono mengingatkan bahwa satu atau dua gempa susulan masih bisa memiliki magnitudo yang cukup besar dan berpotensi merusak bangunan yang telah melemah akibat gempa utama. Selain itu, redistribusi tegangan pascagempa utama juga memindahkan sebagian tekanan ke area batuan di sekitarnya.

Oleh karena itu, rangkaian gempa susulan bukan berarti tekanan di wilayah tersebut terus meningkat, melainkan merupakan mekanisme kerak bumi dalam mengurai sisa tegangan untuk mencapai kondisi yang lebih stabil. Daryono juga menjelaskan perbedaan antara gempa pembuka (foreshock), gempa utama (mainshock), dan gempa susulan (aftershock) yang ditentukan berdasarkan urutan waktu, lokasi, dan magnitudo relatif dalam satu kluster patahan.

Status sebuah gempa dapat berubah secara retrospektif, artinya baru bisa dipastikan setelah rangkaian peristiwa gempa selesai. Untuk mengidentifikasi gempa susulan, seismolog melihat parameter seperti lokasi yang masih berada dalam zona patahan gempa utama dan pola kemunculan yang mengikuti proses peluruhan energi, serta Hukum Båth yang berkaitan dengan magnitudo gempa susulan terbesar.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.