bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa serangkaian erupsi gunung berapi yang terjadi berdekatan merupakan konsekuensi alami bagi Indonesia karena negara ini terletak di zona Cincin Api (Ring of Fire).
Ia menambahkan bahwa kondisi ini menuntut pemerintah untuk meningkatkan alokasi anggaran mitigasi bencana secara signifikan, mengingat Indonesia saat ini sedang menghadapi gempa berkekuatan 7,7 pada skala Richter di Flores, NTT, serta letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Badan Oseanik dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) menjelaskan bahwa Ring of Fire terbentuk akibat interaksi lempeng tektonik, khususnya zona subduksi di mana satu lempeng lebih berat terdorong ke bawah lempeng lain. Proses subduksi ini menghasilkan magma yang naik melalui lempeng di atasnya dan menampakkan diri sebagai gunung berapi.
Zona subduksi juga menjadi lokasi palung laut terdalam serta sumber gempa dalam. Gempa bumi terjadi ketika lempeng-lempeng tektonik bergesekan atau ketika lempeng yang sedang menyusup mengalami tekukan.
Data Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan bahwa sebagian besar gempa dan letusan gunung berapi tidak terjadi secara acak, melainkan terkonsentrasi di sepanjang batas lempeng tektonik, termasuk wilayah Ring of Fire yang menghubungkan lempeng Pasifik dengan lempeng-lempeng sekitarnya.
Ring of Fire mencakup lebih dari 450 gunung berapi dan membentang sekitar 40.250 kilometer dalam bentuk tapal kuda, melintasi ujung selatan Amerika Selatan, pantai barat Amerika Utara, Selat Bering, Jepang, hingga Selandia Baru.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menekankan bahwa peningkatan persepsi aktivitas gempa di kawasan Pasifik tidak selalu mencerminkan peningkatan nyata. Berdasarkan data USGS, sekitar 500.000 gempa tercatat setiap tahun di seluruh dunia, dengan sekitar 90 persen atau 450.000 gempa berada di zona Ring of Fire. Artinya, rata-rata terjadi sekitar 1.200 gempa per hari di wilayah tersebut.
Daryono menjelaskan bahwa persepsi tentang peningkatan aktivitas biasanya dipicu oleh klasterisasi temporal—beberapa gempa signifikan yang terjadi berdekatan—serta kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial yang membuat gempa di daerah terpencil cepat diketahui publik.