bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, rupiah dibuka melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS pada perdagangan Senin. Pada penutupan sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.903 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi data penjualan barang tahan lama Amerika Serikat (AS) yang lebih baik daripada perkiraan. Data tersebut tercatat tidak berubah atau 0 persen, sedangkan perkiraan sebelumnya menunjukkan penurunan 0,4 persen. Pesanan baru barang tahan lama buatan AS pada Agustus juga stabil di angka 338,6 miliar dolar AS.
Lukman mengatakan rupiah diperkirakan tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah, serta prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed). Ia juga menyinggung penolakan AS terhadap proposal Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York.
Dalam proposal itu, Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya lagi pembicaraan nuklir dalam satu minggu. Sebagai imbalannya, Iran meminta AS mencabut blokade laut, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, dan memulihkan gencatan senjata di kawasan. AS disebut sedang mempertimbangkan serangan baru setelah pemilihan umum sela pada November 2026.
Di tengah kondisi tersebut, imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun tercatat 5,2 persen, sementara tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen. Harga minyak mentah WTI berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel dan Brent sebesar 103,2 dolar AS per barel.
Investor juga memantau prospek kebijakan The Fed yang lebih hawkish. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan Oktober diperkirakan sekitar 70 persen, naik dari 50 persen pada awal pekan. Data ekonomi yang kuat dan pernyataan hawkish para pembuat kebijakan memperkuat perkiraan bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.