bytedaily - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin, 14 April 2026, mengalami pelemahan tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen, berakhir di level Rp17.105 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini, menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya upaya blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat menyusul kegagalan perundingan damai dengan Iran.
Langkah blokade yang diumumkan Presiden AS Donald Trump, yang akan mulai diterapkan oleh Angkatan Laut AS terhadap seluruh lalu lintas maritim yang keluar masuk pelabuhan Iran, menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global. Situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi dan perdagangan internasional, yang secara tidak langsung menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengindikasikan respons tegas terhadap setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz, menambah eskalasi potensi konflik.
Meskipun dibayangi oleh dinamika regional tersebut, proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menunjukkan optimisme. Asian Development Bank (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan mencapai 5,2 persen, melampaui realisasi 5,1 persen tahun sebelumnya, meskipun sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Proyeksi ini diperkirakan masih berada dalam rentang target inflasi Bank Indonesia, yakni 2,5 persen dengan deviasi 1 persen, menandakan fondasi ekonomi domestik yang relatif stabil di tengah gejolak eksternal.