bytedaily - Dilansir dari finance.yahoo.com, saham Exxon Mobil Corporation (XOM) yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar $613 miliar, mengalami penurunan 16,7% dari level tertinggi 52 minggunya di $176,41 pada 30 Maret. Dalam tiga bulan terakhir, saham XOM turun 3,6%, tertinggal dari imbal hasil Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang sebesar 3,5% dalam periode yang sama.
Namun, dalam gambaran jangka panjang, XOM menunjukkan kinerja yang impresif. Saham perusahaan energi ini melonjak 43,9% selama 52 minggu terakhir, melampaui kenaikan DJIA sebesar 20,4% dalam periode yang sama. Secara tahun berjalan (year-to-date), saham XOM naik 22,1%, jauh di atas lonjakan DJIA yang mencapai 5,4%.
Perdagangan saham XOM belakangan ini berada di bawah rata-rata 50 hari sejak awal April, meskipun tetap berada di atas rata-rata 200 hari sejak akhir Agustus 2025. Pada 1 Mei, saham XOM sempat anjlok 1% meskipun melaporkan hasil kuartal pertama (Q1) yang melampaui ekspektasi. Pendapatan perusahaan sebesar $85,1 miliar naik 2,4% secara tahunan dan 4,5% di atas perkiraan analis. Laba per saham yang disesuaikan (adjusted EPS) sebesar $1,16 juga melampaui ekspektasi konsensus $1,07.
Manajemen XOM menyatakan bahwa peningkatan produksi minyak dari Permian Basin dan Guyana membantu menyeimbangkan tekanan eksternal, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kondisi cuaca buruk. Kinerja XOM juga melampaui rivalnya, Chevron Corporation (CVX), yang naik 34,6% dalam 52 minggu terakhir dan 20,1% secara tahun berjalan.
Meskipun mengalami penurunan jangka pendek, para analis tetap optimistis terhadap prospek Exxon Mobil. Saham ini memiliki peringkat konsensus 'Moderate Buy' dari 27 analis yang mengulasnya, dengan target harga rata-rata $164,56, menunjukkan potensi kenaikan 12% dari harga saat ini.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi finance.yahoo.com.