bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Satelit Lampung-1 telah mencatat sejarah sebagai satelit hiperspektral berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama dari Indonesia. Peluncuran resminya dilakukan dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, China, pada Rabu (5/8) menggunakan roket Smart Dragon-3 sebagai bagian dari misi OSE Hyperspectral Twin Satellites.
Acara peluncuran ini disaksikan langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal beserta delegasi dari Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Provinsi Shandong, STAR.VISION Aerospace, dan berbagai mitra internasional.
Satelit Lampung-1 merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Provinsi Shandong. Gubernur Lampung, Rahmat, menyatakan bahwa kolaborasi antar provinsi dari negara yang berbeda ini mencakup berbagai bidang, termasuk pertanian modern, teknologi, investasi, perdagangan, infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia, dengan salah satu fokusnya adalah pengembangan satelit ini.
Kerja sama ini tidak hanya terbatas pada akses citra satelit, tetapi juga bertujuan untuk membangun ekosistem pemanfaatan teknologi hiperspektral AI. Hal ini akan diwujudkan melalui transfer pengetahuan, riset bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan Provinsi Lampung, sebagaimana dilaporkan oleh Antara.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga turut berperan dalam proyek ini. BRIN akan memastikan pemanfaatan data satelit sesuai dengan standar ilmiah, tata kelola data, dan regulasi penginderaan jauh yang berlaku di Indonesia. Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan pentingnya keamanan data, yang menjadi salah satu fokus diskusi BRIN. Ia memastikan bahwa BRIN akan memiliki otoritas terkait penyimpanan data dan menjamin keamanan data pengguna di masa depan.
Menurut laporan Xinhua, Satelit Lampung-1 dirancang untuk memantau sektor pertanian hingga risiko bencana di wilayah Indonesia, dengan fokus pemanfaatan utama di Lampung. Rahmat menjelaskan bahwa sektor pertanian menjadi prioritas, khususnya untuk pemetaan lahan, pemantauan kondisi tanaman, identifikasi kekurangan air, deteksi dini gangguan tanaman, dan perkiraan potensi produksi. Komoditas singkong disebut sebagai salah satu yang telah masuk dalam eksplorasi awal.
Selain itu, data dari Lampung-1 berpotensi digunakan untuk pengelolaan lingkungan, pemantauan pesisir dan kelautan, mitigasi banjir dan kekeringan, pemantauan perubahan tutupan lahan, serta perencanaan pembangunan yang lebih presisi.
Lampung-1 dikembangkan sebagai satelit hiperspektral dengan kemampuan kecerdasan artifisial untuk memproses data awal langsung di orbit. Pendekatan ini memungkinkan data yang dikirim ke Bumi lebih terpilah dan cepat diubah menjadi informasi yang dibutuhkan pengguna.
STAR.VISION melaporkan bahwa Satelit Lampung-1 memiliki bobot 300 kg dan dilengkapi dengan 22 saluran spektral yang terkalibrasi dengan akurat, mencakup rentang panjang gelombang 400-1.650 nanometer. Satelit ini memiliki resolusi spasial hingga 5 meter dan lebar cakupan pencitraan sebesar 300 km. Dengan jaringan kedua satelit, siklus kunjungan ulang global dapat dicapai dalam 5 hari.
Mengutip Antara, salah satu keunggulan satelit ini adalah kapasitas komputasi internal sebesar 400 TOPS, yang memungkinkan inferensi kecerdasan buatan dilakukan di luar angkasa.