bytedaily
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:12 WIB

Satelit NASA Deteksi Asap dan Titik Panas di Kalimantan Akibat Karhutla

Redaksi 22 Agustus 2026 1 views
Satelit NASA Deteksi Asap dan Titik Panas di Kalimantan Akibat Karhutla
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Menurut informasi dari cnnindonesia.com, citra satelit NOAA-20 yang diakses melalui platform NASA Worldwide menampilkan Pulau Kalimantan diselimuti asap tebal sebagai dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wilayah yang sering disebut sebagai 'paru-paru dunia' ini terlihat tertutup lapisan putih dan abu-abu, dengan sedikit area daratan hijau yang tampak samar.

Citra satelit NOAA-20 tersebut, yang diambil pada 20 Agustus 2026 menggunakan instrumen VIIRS dalam mode Corrected Reflectance (True Color), memperlihatkan tutupan putih yang cukup luas di bagian tengah hingga selatan Kalimantan. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa dalam mode True Color, awan juga memiliki tampilan berwarna putih, sehingga visual ini lebih efektif untuk mengamati kondisi permukaan dan atmosfer Kalimantan saat satelit melintas.

Selain gambaran umum tutupan atmosfer, citra satelit juga mengidentifikasi adanya titik panas (hotspot) yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kalimantan. Data lapangan mengkonfirmasi peningkatan aktivitas kebakaran di sejumlah daerah di Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kalimantan sebagai wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak yang terdeteksi. Per 19 Agustus 2026, BMKG mendeteksi 1.106 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan, yang terbagi di berbagai provinsinya: 521 titik di Kalimantan Barat, 424 titik di Kalimantan Tengah, 40 titik di Kalimantan Selatan, 103 titik di Kalimantan Timur, dan 18 titik di Kalimantan Utara.

Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, terdeteksi 34 titik panas di Sumatra dan 179 titik panas di wilayah Papua.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.