bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 00:09 WIB

Sebaran Gas Sulfur Dioksida (SO2) Akibat Erupsi Anak Krakatau Terdeteksi di Banten, Jabodetabek, dan Lampung

Redaksi 08 September 2026 11 views
Sebaran Gas Sulfur Dioksida (SO2) Akibat Erupsi Anak Krakatau Terdeteksi di Banten, Jabodetabek, dan Lampung
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengonfirmasi bahwa warna merah pada peta satelit menandakan penyebaran gas sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau hingga wilayah Banten, Jabodetabek, dan Lampung. Meskipun demikian, masyarakat tidak perlu khawatir selama bau belerang tidak tercium.

Badan Geologi menjelaskan bahwa selain abu vulkanik dan batu pijar, erupsi di Selat Sunda juga menghasilkan gas SO2. Informasi mengenai gas ini yang beredar di media sosial sempat menimbulkan kegelisahan, namun peta satelit tidak serta-merta menunjukkan bahaya di permukaan.

Peta tersebut merekam konsentrasi SO2 pada seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan pada lapisan udara yang langsung dihirup manusia. Karena itu, tingkat bahaya sangat dipengaruhi oleh ketinggian gas di troposfer; bila berada pada ketinggian yang lebih tinggi, gas tidak langsung terhirup.

Apabila bau belerang mulai tercium, Badan Geologi menyarankan masyarakat memakai masker, tetap berada di dalam ruangan, dan menghindari meminum air hujan karena dapat berbahaya bagi kesehatan.

Konsentrasi SO2 di bawah 5 ppm dianggap aman. Jika melebihi batas tersebut, gas dapat menimbulkan batuk, sesak napas, iritasi mata, serta iritasi pada saluran pernapasan dan paru‑paru.

SO2 merupakan salah satu komponen gas oksida belerang (SOx) yang tidak berwarna, berbau tajam, dan mudah larut dalam air. Gas ini biasanya terbentuk saat bahan bakar fosil yang mengandung sulfur terbakar, serta dari material mentah seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih logam.

Menurut Global Atmosphere Watch, SO2 dapat mengiritasi selaput lendir hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan, terutama pada penderita asma. Di atmosfer, SO2 dapat berubah menjadi aerosol sulfat, partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan bagian bawah dan memiliki sifat korosif serta karasinogen.

Kadar SO2 yang tinggi juga berkontribusi pada pembentukan hujan asam. Proses ini melibatkan reaksi sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dengan air di atmosfer, menghasilkan asam sulfat dan asam nitrat yang turun bersama hujan, meningkatkan keasaman tanah dan badan air, serta mengancam kehidupan ikan, tanaman, serta plankton dan invertebrata.

Selain dampak pada ekosistem, konsentrasi tinggi SO2 dapat merusak jaringan tanaman, menyebabkan kerusakan pada daun dan jaringan tumbuh lainnya.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.