bytedaily
Senin, 19 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda

Redaksi 07 September 2026 4 views
Sejarah Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Gunung Anak Krakatau meletus pada Jumat 4 September pukul 23.07 WIB hingga dini hari Sabtu 5 September di Selat Sunda.

Gunung ini terbentuk setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menciptakan kaldera besar di Selat Sunda. Pada akhir 1927, aktivitas kembali muncul di dalam kaldera tersebut, meskipun masih berada di bawah permukaan laut.

Akumulasi material vulkanik menyebabkan sebuah gunung baru muncul ke permukaan pada tahun 1929, yang kemudian dinamai Gunung Anak Krakatau. Sejak saat itu, gunung terus mengalami proses konstruksi; lava, abu, dan material vulkanik yang dikeluarkan dari kawah secara bertahap menumpuk membentuk tubuh gunung.

Menurut Badan Geologi, Anak Krakatau diklasifikasikan sebagai gunung berapi aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan tetap menunjukkan aktivitas magmatik meskipun intensitasnya dapat berfluktuasi.

Pada tahun 2026, Badan Geologi mencatat peningkatan aktivitas gunung sejak beberapa bulan sebelum erupsi. Emisi gas SO₂ serta anomali panas terdeteksi oleh satelit sejak Juni 2026, sementara aktivitas kegempaan dan asap kawah meningkat sehingga status gunung dinaikkan dari Level II Waspada ke Level III Siaga pada 2 Juli 2026.

Secara umum, gunung berapi merupakan sistem yang terus bergerak; magma naik melalui rekahan, berubah menjadi lava dan material vulkanik saat mencapai permukaan, lalu menumpuk di sekitar kawah. Proses berulang dapat menambah tinggi dan mengubah bentuk gunung, namun tidak selalu berarti pertumbuhan semata.

Pada tahun 2018, Anak Krakatau mengalami longsor material vulkanik ke laut yang memicu tsunami pada 22 Desember 2018, menghantam pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa ini menegaskan bahwa bahaya gunung tidak hanya berasal dari lava, abu, atau batu letusan, melainkan juga dari longsoran material ke laut.

BMKG menyatakan bahwa longsoran material vulkanik ke laut merupakan bahaya sekunder yang dapat memicu tsunami non-tektonik. Meskipun erupsi tidak otomatis menimbulkan tsunami, potensi tersebut menjadi perhatian bila terjadi longsoran material dalam jumlah signifikan.

Oleh karena itu, pemantauan Anak Krakatau tidak hanya didasarkan pada tinggi kolom abu atau intensitas letusan, melainkan juga pada perubahan bentuk gunung, pergerakan massa batuan, aktivitas magma, dan kondisi laut di sekitarnya, mengingat gunung ini masih relatif muda dan terus mengalami pertumbuhan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.