bytedaily
Selasa, 25 Agustus 2026 - 08:08 WIB

Shein Targetkan Rp31,7 T dari IPO di Hong Kong dengan Valuasi Turun 70%

Redaksi 25 Agustus 2026 3 views
Shein Targetkan Rp31,7 T dari IPO di Hong Kong dengan Valuasi Turun 70%
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, raksasa mode cepat asal China, Shein, berencana untuk melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) di Bursa Hong Kong pada 1 September 2026. Perusahaan ini menargetkan untuk menghimpun dana sebesar US$1,8 miliar atau setara dengan Rp31,78 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.705 per dolar AS. Aksi korporasi ini diprediksi akan menjadi penawaran saham baru terbesar di Hong Kong sepanjang tahun 2026.

Namun, valuasi Shein dilaporkan mengalami penurunan signifikan, mencapai 70 persen dibandingkan saat puncaknya yang hampir menyentuh US$100 miliar pada tahun 2022. Dalam prospektus IPO yang dikutip Reuters, Shein akan menawarkan 280 juta saham dengan kisaran harga antara HK$47,60 (sekitar Rp107,3 ribu) hingga HK$49,50 (sekitar Rp111,96 ribu) per saham, menggunakan asumsi kurs Rp2.259 per dolar Hong Kong. Perusahaan memperkirakan dapat meraup dana hingga HK$13,86 miliar, dengan valuasi perusahaan diperkirakan mendekati US$27 miliar, jauh di bawah valuasi private-market yang mencapai sekitar US$98,2 miliar pada 2022.

Penurunan valuasi ini terjadi di tengah tekanan terhadap prospek pertumbuhan perusahaan akibat tarif perdagangan yang lebih tinggi, persaingan yang ketat, peningkatan biaya, serta pengawasan regulator. Analis Morningstar, Lorraine Tan, menyatakan bahwa penurunan valuasi mencerminkan perubahan prospek bisnis Shein. Ia menambahkan bahwa minat investor global terhadap Shein kemungkinan melemah, sehingga harga saham saat pencatatan ditetapkan lebih rendah.

Sebelumnya, Shein telah membatalkan rencana IPO di Bursa New York dan London dalam empat tahun terakhir. Perlambatan pertumbuhan bisnis juga menjadi faktor yang menekan valuasi perusahaan. Shein memproyeksikan pertumbuhan pendapatan pada semester I 2026 akan sejalan dengan pertumbuhan 1,1 persen yang dicatatkan pada kuartal I, dengan margin operasional yang diperkirakan sedikit lebih rendah. Kondisi ini dipengaruhi oleh biaya impor baru di Eropa, tekanan harga, dan melemahnya permintaan di Timur Tengah.

Di Amerika Serikat, pendapatan Shein menurun 14,3 persen pada kuartal I 2026 setelah pemerintah AS menghapus pembebasan bea masuk untuk paket bernilai kurang dari US$800. Perubahan ini menyebabkan produk asal China yang dijual melalui platform Shein dan dikirim ke AS dikenakan tarif antara 10 persen hingga 87,5 persen. Akibatnya, Shein mencatat kerugian kuartalan US$99 juta, ditambah biaya fair value sebesar US$328 juta akibat perubahan akuntansi.

Selain isu perdagangan, Shein juga menghadapi masalah terkait pengawasan regulator di AS dan Eropa. Perusahaan telah mencadangkan US$80 juta hingga akhir Maret untuk berbagai perkara hukum dan regulasi, termasuk penyelidikan oleh Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC), Undang-Undang Layanan Digital Uni Eropa (EU Digital Service Act), serta kasus privasi data di Prancis dan Irlandia. Analis uSMART Securities, Dickie Wong, menilai prospek IPO Shein masih menghadapi tantangan karena perlambatan pertumbuhan perusahaan yang signifikan.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.