bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, makanan yang tidak dikonsumsi dan berakhir sebagai sampah turut berdampak pada pemanasan global. Dampaknya berasal dari emisi selama proses produksi dan distribusi pangan, serta gas yang dilepaskan saat sampah makanan membusuk.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperkirakan susut dan sisa pangan menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca dunia. Isu ini menjadi perhatian dalam Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan yang diperingati setiap 29 September. Peringatan tersebut mengajak berbagai pihak mengurangi pangan yang hilang atau terbuang, dari rantai pasok hingga konsumen.
Produksi pangan menggunakan lahan, air, pupuk, dan energi. Sumber daya juga dibutuhkan untuk mengolah, mengemas, mengangkut, menyimpan, dan memasak makanan. Jika pangan kemudian dibuang, emisi dari rangkaian proses tersebut telah dilepaskan, sementara manfaat gizinya tidak dikonsumsi.
Sampah makanan yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) juga dapat menghasilkan metana ketika terurai dalam kondisi minim oksigen. Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut kemampuan metana memerangkap panas lebih dari 80 kali lipat karbon dioksida dalam rentang 20 tahun. Mengurangi makanan terbuang dan mencegah sampah organik menumpuk di TPA dapat membantu menekan emisi.
Food Waste Index Report 2024 dari UNEP memperkirakan sekitar 1,05 miliar ton makanan terbuang di rumah tangga, layanan makanan, dan ritel. Jumlah itu setara sekitar 19 persen pangan yang tersedia bagi konsumen. Rumah tangga menyumbang 60 persen, layanan makanan 28 persen, dan ritel 12 persen. Secara terpisah, sekitar 13 persen pangan hilang setelah panen dan sebelum sampai ke ritel.
Di Indonesia, kajian Bappenas pada 2021 mencatat timbulan susut dan sisa pangan setara 115–184 kilogram per tahun. Pangan yang terbuang itu diperkirakan berpotensi memenuhi kebutuhan nutrisi 61–125 juta orang, atau sekitar 30 persen penduduk Indonesia.
Laporan WRI yang merujuk kajian Bappenas untuk periode 2000–2019 mencatat proporsi susut dan sisa pangan terhadap produksi domestik sebesar 62,8 persen untuk sayuran, 45,5 persen untuk buah-buahan, 30,7 persen untuk daging, dan 29,9 persen untuk ikan.
Susut dan sisa pangan juga menjadi salah satu isu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada pertengahan 2025, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan perlunya memperhatikan aspek lingkungan dalam pelaksanaan program tersebut.