bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, startup teknologi Tau Robotics kini membuka program penyewaan robot humanoid yang dirancang untuk membantu pekerjaan bersih-bersih di rumah. Layanan ini awalnya ditawarkan kepada 1.000 pelanggan pertama dengan tarif US$30 atau sekitar Rp535 ribu per jam. Saat ini, layanan tersebut baru tersedia bagi pengguna di San Francisco, Amerika Serikat.
Robot-robot yang dilengkapi seragam hitam dan diberi nama seperti Chelsea dan Elon ini diklaim mampu melaksanakan tugas rumah tangga, termasuk menyedot debu, membersihkan meja dapur, dan membuang sampah. Menurut informasi yang beredar, robot yang memiliki nilai sekitar Rp893 juta ini dilatih menggunakan kecerdasan buatan (AI).
Salah satu pendiri dan CEO Tau Robotics, Alexander Koch, menjelaskan bahwa robot-robot tersebut awalnya dilatih untuk meniru kinerja manusia, kemudian ditingkatkan agar melampaui kemampuan tersebut. Layanan Tau saat ini beroperasi berdasarkan undangan, namun Koch berencana untuk meningkatkan kapasitas layanan hingga 1.000 kali seminggu di San Francisco pada tahun 2027, sebelum melakukan ekspansi ke kota lain dan pasar global.
Meskipun demikian, para ahli memperkirakan bahwa robot baru benar-benar dapat diandalkan untuk tugas rumah tangga secara efektif dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Robot Tau yang beroperasi saat ini masih memerlukan pengawasan dari teknisi manusia yang mengendalikannya dari jarak jauh, terutama saat menghadapi kendala.
Para teknisi memantau robot menggunakan kacamata Virtual Reality (VR) yang memungkinkan mereka melihat melalui kamera yang terpasang di mata robot. Koch mengakui bahwa robot Tau belum dapat melakukan semua tugas secara mandiri, seperti menaiki tangga atau menentukan area yang perlu dibersihkan, sehingga sebagian besar perintah masih diarahkan oleh manusia.
Robot pembersih rumah ini juga menuai kritik. Profesor Teknik dari Universitas California, Ken Goldberg, yang meneliti robotika dan otomatisasi, menyatakan bahwa robot humanoid masih cenderung canggung dalam tahap pengembangannya, bahkan saat diawasi dari jarak jauh. Ia memperingatkan potensi risiko jika robot terjatuh karena bobotnya yang cukup berat, dan kemungkinan robot tersebut bergerak tidak terkendali saat mencoba bangkit kembali.
Goldberg juga menambahkan bahwa robot ini belum aman untuk anak-anak karena potensi mencubit menggunakan penjepit di tangannya, sehingga perlu menjaga jarak. Menanggapi kekhawatiran tersebut, Koch menyatakan bahwa tim teknisi Tau memantau robot untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan. Jika terjadi masalah, teknisi dapat mengaktifkan mode aman yang akan mematikan robot dengan memerintahkannya untuk berbaring di lantai.
Koch menambahkan bahwa jumlah teknisi pengawas akan dikurangi seiring dengan peningkatan kemandirian robot, yang diperkirakan akan tercapai pada tahun 2028 atau 2029. Ia menekankan bahwa proses ini masih dalam tahap pembelajaran dan perusahaan terus mendorong batas kemampuan teknologi tersebut.