bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, kebutuhan pangan bagi masyarakat yang terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dipastikan aman untuk jangka waktu yang panjang.
Pemerintah menginformasikan bahwa stok beras nasional saat ini mencapai 5,2 juta ton. Sementara itu, ketersediaan beras di wilayah NTT sendiri tercatat sekitar 39 ribu ton. Jumlah ini jauh melebihi estimasi kebutuhan bulanan sekitar 34.600 pengungsi yang diperkirakan membutuhkan 300 ton beras.
Dengan perhitungan tersebut, pasokan pangan di NTT diprediksi mampu memenuhi kebutuhan hingga satu tahun ke depan, memberikan waktu yang memadai untuk proses pemulihan pascabencana. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa stok beras yang ada di NTT sudah sangat aman untuk kebutuhan pengungsi.
Untuk memperkuat penanganan di lapangan, pemerintah juga telah menyiapkan 200 ton beras khusus untuk Kabupaten Manggarai. Bantuan ini merupakan bagian dari total dukungan pemerintah kepada empat kabupaten di NTT yang terdampak gempa, dengan total bantuan beras mencapai 5.386 ton, yang mencakup bantuan bencana dan bantuan pangan reguler senilai sekitar Rp75,4 miliar.
Respons cepat pemerintah terlihat dalam penyaluran bantuan. Ketika pemerintah daerah meminta tambahan beras, permintaan yang awalnya hanya 20 ton langsung ditingkatkan menjadi 200 ton untuk mempercepat proses bantuan tanpa menunggu administrasi yang panjang. Amran menjelaskan bahwa proses disposisi dan pemberian bantuan dilakukan secara langsung di lapangan untuk memastikan bantuan tiba dengan cepat.
Sebanyak 35 truk telah disiapkan untuk mendistribusikan bantuan ke wilayah-wilayah terdampak, dengan 10 truk di antaranya diarahkan langsung ke lokasi yang ditinjau. Selain beras, pemerintah juga menyalurkan bantuan kemanusiaan lainnya seperti minyak goreng, gula, dan mie instan.
Dukungan pemerintah tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan pangan saat masa darurat. Kementerian Pertanian juga berupaya membantu masyarakat untuk kembali berproduksi melalui perbaikan infrastruktur pertanian seperti sawah dan jaringan irigasi tersier yang rusak. Selain itu, program penyediaan benih gratis serta bantuan alat dan mesin pertanian juga diberikan. Pemerintah juga menyiapkan penggantian tanaman perkebunan yang rusak, termasuk kopi, kakao, dan kelapa, agar masyarakat dapat segera kembali memperoleh penghasilan.