bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI telah memperkenalkan susunan kepengurusan manajemen terbarunya guna memperkuat tata kelola perusahaan. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengumumkan bahwa Dewan Komisaris DSI akan dipimpin oleh Komisaris Utama Cipung Noer. Anggota Dewan Komisaris lainnya meliputi Tony Wenas, Prof Mari Elka Pangestu, dan Harold Tjiptadjaja.
Rosan Roeslani menyatakan bahwa Dewan Komisaris ini memiliki pengalaman kepemimpinan yang luas di berbagai bidang, termasuk pengembangan industri dan teknologi, operasi pertambangan skala besar, kebijakan ekonomi dan perdagangan internasional, investasi, serta pasar keuangan. Pengumuman ini disampaikan dalam acara Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) di Wisma Danantara, Jakarta.
Sementara itu, jajaran Direksi DSI akan dipimpin oleh Luke Mahony sebagai Direktur Utama. Posisi direktur lainnya diisi oleh Sinthya Roesly sebagai Direktur Keuangan dan Treasury, Nur Hidayat Udin sebagai Direktur Manajemen Risiko, serta Ivan Ferdiansyah Baely sebagai Direktur Hukum & Kepatuhan. Rosan menambahkan bahwa pembentukan jajaran direksi ini menggabungkan keahlian global di sektor sumber daya alam dengan kompetensi mendalam di bidang keuangan, manajemen risiko, hukum, dan kepatuhan.
Selain itu, DSI juga meluncurkan identitas mereknya untuk pertama kali kepada publik sebagai salah satu langkah penting dalam penguatan kelembagaan. Rosan menjelaskan bahwa DSI, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ekspor yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026, memiliki peran strategis dalam mendukung ekosistem ekspor yang lebih terintegrasi, akuntabel, dan tertelusur. Tujuannya adalah untuk memastikan Indonesia memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya alam strategisnya.
Mandat DSI mencakup penguatan transparansi, tata kelola, dan optimalisasi nilai dalam ekspor komoditas strategis Indonesia. Sejak beroperasi pada 1 Juni 2026, DSI telah fokus pada komoditas batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy, sambil terus memastikan kelancaran ekspor dan kepastian berusaha.
Rosan menekankan pentingnya DSI dalam meningkatkan visibilitas ekosistem komoditas strategis Indonesia dan pemahaman komprehensif atas transaksi ekspor, dinamika pasar, serta cara memaksimalkan nilai bagi perekonomian nasional. Ia menilai perlunya tata kelola yang lebih kuat, visibilitas yang lebih baik, dan sistem yang lebih akuntabel untuk memastikan pencatatan dan optimalisasi nilai dari komoditas tersebut demi kepentingan nasional.
Dalam periode operasionalnya yang belum genap tiga bulan, DSI telah berhasil membangun visibilitas analitis terhadap sekitar 6.500 deklarasi ekspor dengan nilai lebih dari 14 miliar dolar AS dan volume lebih dari 90 juta ton komoditas. Perdagangan ini melibatkan lebih dari 50 pelabuhan muat di 25 provinsi dan menjangkau lebih dari 100 negara tujuan. DSI berupaya membangun visibilitas transaksi yang lebih komprehensif dengan mengintegrasikan data ekspor dengan referensi pasar global, termasuk harga, volume, kualitas, dan klasifikasi Harmonized System (HS).