bytedaily - Melansir laporan cnnindonesia.com, sebuah studi memproyeksikan masyarakat berpenghasilan rendah dapat mengalokasikan hingga separuh pendapatannya untuk membeli makanan pada 2050. Perkiraan ini berkaitan dengan meningkatnya kesenjangan ekonomi yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk jumlah penduduk, produksi pangan, harga energi, dan perubahan iklim.
Penelitian berjudul “Identifying Key Uncertainties and Drivers of Future Resource Security Outcomes Through a Multisector Scenario Ensemble” itu diterbitkan dalam jurnal Earth's Future. Menurut laporan MIT News, hasil penelitian menunjukkan dampak krisis sumber daya di masa depan dapat berbeda menurut kelas sosial.
Di sejumlah wilayah, warga berpenghasilan rendah diperkirakan menghabiskan hampir 50 persen pendapatan untuk pangan. Sementara itu, kelompok berpenghasilan tertinggi di wilayah yang sama diproyeksikan mengeluarkan sekitar 5 persen.
Jennifer Morris, salah satu peneliti dari Pusat Sains dan Strategi Keberlanjutan MIT, mengatakan pengeluaran sebesar separuh pendapatan untuk makan dapat mengurangi kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasar lainnya.
Peneliti mengidentifikasi 12 faktor utama yang memengaruhi akses terhadap pangan, air, dan energi. Faktor-faktor tersebut mencakup kondisi ekonomi, produksi pertanian, perdagangan, iklim, serta penggunaan lahan. Morris juga menekankan pentingnya pendapatan dalam penelitian yang berfokus pada kesejahteraan manusia.
Studi ini menggunakan Global Change Analysis Model (GCAM) versi 7.1 untuk menganalisis keterkaitan energi, ekonomi, air, lahan, dan iklim. Model tersebut membagi dunia menjadi 32 wilayah, 235 cekungan air, dan 384 wilayah penggunaan lahan, serta memperhitungkan hal-hal seperti perkiraan harga komoditas.
Para peneliti menjalankan 3.735 simulasi untuk menggambarkan beragam kemungkinan kondisi sumber daya pada 2050. Skenario disusun dengan mengubah 12 faktor yang dikelompokkan ke dalam enam kategori: sosioekonomi, intensitas karbon dan konservasi lahan, pangan, energi, air, serta dampak perubahan suhu terhadap energi dan air.
Menurut penelitian tersebut, beberapa bagian Afrika sub-Sahara berpotensi mengalami krisis pangan paling berat. Adapun krisis energi paling parah diperkirakan dapat menimpa warga berpenghasilan rendah di sejumlah wilayah Asia, Eropa Timur, dan Timur Tengah.
Peneliti mengakui proyeksi mengenai akses sumber daya mengandung banyak ketidakpastian. Namun, mereka menilai hasil kajian dapat membantu menunjukkan wilayah yang perlu mendapat perhatian. Mereka juga mengingatkan pembuat kebijakan agar mempertimbangkan kombinasi faktor yang dapat menimbulkan kerentanan di setiap wilayah.