bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian mengkaji bagaimana gaya gravitasi Matahari dan Bulan yang menimbulkan pasang surut dapat memengaruhi daratan serta batuan Bumi. Hasil studi ini dinilai dapat menambah pemahaman tentang patahan dan potensi megathrust di masa depan.
Tekanan pasang surut yang berlangsung terus-menerus dapat memicu gempa lambat, yaitu pergeseran yang merambat dan melepaskan energi lebih lambat daripada gempa biasa sehingga tidak terasa di permukaan. Studi yang terbit di jurnal JGR Solid Earth itu menemukan bahwa gangguan pasang surut kecil dapat memberi dampak besar ketika getarannya tersebar melalui resonansi.
Para peneliti menyebut tekanan tersebut biasanya hanya beberapa kilopascal, tetapi dalam sejumlah kasus dapat memicu gempa lambat pada patahan. Mereka menganalisis pergeseran dan proses lain di antarmuka lempeng tektonik melalui simulasi model spring-block dan rate-and-state friction, yang memperhitungkan perubahan gesekan berdasarkan kecepatan serta kondisi kontak pada patahan.
Jenis aktivitas gempa yang muncul bergantung pada karakter gesekan patahan dan responsnya terhadap besar serta durasi gangguan pasang surut. Amplitudo rendah dapat menghasilkan pergeseran perlahan tanpa suara, sedangkan amplitudo lebih tinggi bisa memicu pergeseran yang lebih kuat. Gangguan yang berlangsung dengan ritme tertentu juga dapat beresonansi dengan respons alami patahan, serupa dorongan berulang pada ayunan.
Pengaruh tersebut terlihat dalam pengamatan gempa lambat di Jepang bagian barat daya dan Cascadia, wilayah di Pasifik Barat Laut. Aktivitas di kedua kawasan itu kerap mencapai puncak pada interval sekitar 12 dan 24 jam, sejalan dengan siklus pasang surut. Meski demikian, gangguan pasang surut juga dapat memicu aktivitas seismik dengan pola waktu yang lebih kompleks dan sulit diperkirakan.
Penelitian ini menawarkan kerangka untuk menafsirkan hubungan pola pasang surut dengan gempa lambat dan berpotensi mendukung upaya peramalan gempa. Seismolog dapat membandingkan aktivitas seismik yang terukur dengan pasang surut untuk mengkaji karakter patahan, termasuk kekuatan gesekan dan jarak pergeserannya sebelum melemah. Penulis studi menilai pendekatan ini mungkin lebih sesuai untuk simulasi gempa lokal berfrekuensi rendah yang berulang di zona subduksi aktif Lingkar Pasifik.