bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Studi Menjelaskan Pengaruh Pasang Surut Matahari dan Bulan terhadap Gempa Lambat

Redaksi 05 Oktober 2026 12 views
Studi Menjelaskan Pengaruh Pasang Surut Matahari dan Bulan terhadap Gempa Lambat
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian mengkaji bagaimana gaya gravitasi Matahari dan Bulan yang menimbulkan pasang surut dapat memengaruhi batuan dan daratan di Bumi. Temuan ini dinilai dapat menambah pemahaman tentang patahan dan jangkauan megathrust.

Tekanan pasang surut yang terus-menerus dapat memicu gempa lambat, yakni pergeseran yang merambat dan melepas energi lebih perlahan dibandingkan gempa biasa sehingga tidak terasa di permukaan. Studi yang terbit di jurnal JGR Solid Earth menemukan bahwa gangguan pasang surut kecil dapat berdampak besar melalui proses resonansi.

Para peneliti menyebut tekanan tersebut biasanya hanya beberapa kilopaskal, setara tekanan ringan dari tangan, tetapi teramati dapat memicu gempa lambat pada sejumlah patahan. Untuk mengkaji prosesnya, mereka menggunakan simulasi model spring-block dan rate-and-state friction yang memperhitungkan perubahan gesekan pada antarmuka patahan berdasarkan kecepatan dan kondisi kontaknya.

Jenis aktivitas seismik yang muncul bergantung pada karakter gesekan patahan serta responsnya terhadap besar dan durasi gangguan pasang surut. Amplitudo rendah dapat membuat patahan bergeser perlahan tanpa terasa, sedangkan amplitudo yang lebih tinggi dapat menghasilkan pergeseran lebih kuat. Gangguan yang berlangsung dengan durasi tertentu juga dapat bertepatan dengan respons alami patahan terhadap tekanan dan memicu resonansi, seperti dorongan berulang pada ayunan yang selaras dengan ritmenya.

Pengaruh tersebut tampak dalam pengamatan gempa di Jepang bagian barat daya dan Cascadia, Pasifik Barat Laut. Aktivitasnya kerap mencapai puncak dalam interval sekitar 12 dan 24 jam, sejalan dengan siklus pasang surut. Namun, gangguan pasang surut juga dapat berkaitan dengan aktivitas seismik yang lebih rumit, tidak teratur, dan sulit diperkirakan.

Penelitian itu mengidentifikasi beberapa kemungkinan pola waktu gempa yang dipicu pasang surut: ketika tegangan pasang surut mencapai puncak, saat tekanan meningkat paling cepat, atau tanpa pola yang jelas terhadap pasang surut. Kerangka penelitian ini dapat membantu menafsirkan pola pada gempa lambat dan mendukung upaya peramalan. Seismolog dapat membandingkan aktivitas seismik terukur dengan pasang surut untuk memperkirakan karakter patahan, termasuk kekuatan gesekan dan jarak pergeseran sebelum patahan melemah.

Studi tersebut dinilai lebih sesuai untuk simulasi gempa lokal berfrekuensi rendah yang berulang, seperti gempa lambat yang terdeteksi di zona subduksi aktif di Lingkar Pasifik.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.