bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:21 WIB

Studi Ungkap Faktor yang Mendukung Umur Panjang Kura-kura Jonathan

Redaksi 11 Oktober 2026 14 views
Studi Ungkap Faktor yang Mendukung Umur Panjang Kura-kura Jonathan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah penelitian mengungkap bahwa usia Jonathan, kura-kura raksasa yang diperkirakan mencapai 194 tahun, berkaitan dengan rendahnya kerusakan genetik seiring pertambahan usia. Umur panjangnya tidak hanya didukung faktor genetik.

Studi yang terbit di jurnal Science Advances itu mengidentifikasi 287 varian gen unik pada Jonathan. Sejumlah gen tersebut terlibat dalam perbaikan DNA, pengendalian peradangan, pengaturan insulin, serta penekanan perkembangan kanker.

Peneliti Justin Gerlach mengatakan pengatur gen yang berhubungan dengan produksi energi dan perbaikan DNA tetap stabil pada Jonathan selama hampir dua abad. Temuan itu dikutip dari laman Universitas Cambridge.

Jonathan adalah kura-kura raksasa Aldabra dengan nama ilmiah Adlabrachelys gigantea. Ia diperkirakan menetas pada 1832 dan disebut sebagai kura-kura raksasa tertua yang masih hidup, sekaligus hewan darat tertua di dunia saat ini. Ia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Pulau St. Helena, wilayah seberang laut Inggris di Samudra Atlantik Selatan, dan tinggal di kawasan Plantation House, kediaman gubernur setempat.

Menurut informasi dalam laporan tersebut, Jonathan dibawa dari Seychelles sekitar 144 tahun lalu dalam keadaan dewasa dan diberikan kepada gubernur St. Helena. Para peneliti juga menyebut kura-kura raksasa dari Galapagos dan Seychelles sebagai kelompok penyintas hewan yang dahulu banyak mendominasi ekosistem pulau-pulau.

Tim peneliti membandingkan epigenom Jonathan dengan kura-kura raksasa lain yang lebih muda. Epigenom adalah mekanisme yang berfungsi seperti sakelar untuk mengaktifkan atau menonaktifkan gen. Perbandingan menunjukkan sakelar yang mengatur gen perbaikan DNA dan metabolisme pada Jonathan mirip dengan kerabatnya yang lebih muda.

Kesamaan itu menarik perhatian para peneliti karena epigenom biasanya berubah seiring waktu. Perubahan tersebut turut berkontribusi pada proses penuaan dan dapat berkaitan dengan terganggunya fungsi tubuh.

Penelitian yang dipimpin para peneliti dari Kallel, organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang berfokus pada riset umur panjang, disebut sebagai studi pertama yang menyelidiki epigenom kura-kura raksasa. Tim peneliti menyatakan kajian terhadap kode genetik organisme yang dapat hidup selama berabad-abad dapat memberikan wawasan tentang kemampuan bertahan hidup dalam jangka panjang.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.