bytedaily - Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, akan menggelar Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026, untuk menentukan tanggal pasti perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Acara penting ini akan mengintegrasikan data astronomi hasil hisab dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama dengan observasi hilal (rukyatulhilal) di berbagai lokasi.
Sidang Isbat, yang akan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, melibatkan partisipasi luas dari ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, serta institusi terkait seperti BMKG, BRIN, planetarium, dan observatorium. Keputusan yang diambil diharapkan memiliki legitimasi keagamaan dan ilmiah yang kuat, setelah melalui proses verifikasi yang terbuka.
Persiapan teknis telah dimatangkan, termasuk koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia dan penyediaan sistem pelaporan rukyat. Kriteria penentuan awal bulan hijriah di Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yang menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Berdasarkan data BMKG, proyeksi ketinggian hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan bervariasi antara 0,91 hingga 3,13 derajat, dengan elongasi geosentris antara 4,54 hingga 6,1 derajat. Namun, BMKG mengingatkan potensi gangguan pengamatan hilal oleh objek astronomis lain seperti Saturnus. Jika mengacu pada kriteria MABIMS dan data BMKG, Idul Fitri 2026 kemungkinan jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi serupa disampaikan peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, yang menyatakan secara astronomi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS pada tanggal tersebut. Meskipun demikian, metode perhitungan lain seperti kriteria Turki memprediksi 1 Syawal pada 20 Maret 2026. Hasil akhir penentuan Idul Fitri akan diumumkan setelah Sidang Isbat selesai dilaksanakan.