bytedaily
Kamis, 21 Mei 2026 - 05:58 WIB

Teknologi Gravitasi Ungkap Jaringan Granit Raksasa di Bawah Es Antarktika

Redaksi 19 Maret 2026 12 views
Teknologi Gravitasi Ungkap Jaringan Granit Raksasa di Bawah Es Antarktika
Ilustrasi: Teknologi Gravitasi Ungkap Jaringan Granit Raksasa di Bawah Es Antarktika

bytedaily - Penggunaan teknologi survei gravitasi yang canggih telah memungkinkan para ilmuwan untuk mengungkap keberadaan formasi granit masif yang terkubur di bawah Gletser Pine Island, Antarktika Barat. Penemuan ini berawal dari fenomena bebatuan granit merah muda yang tidak lazim ditemukan di puncak-puncak vulkanik Pegunungan Hudson.

Tim peneliti dari British Antarctic Survey (BAS) menggunakan data survei udara, termasuk pengukuran gravitasi yang sangat sensitif, untuk mendeteksi anomali di bawah lapisan es. Hasil analisis menunjukkan adanya massa granit besar dengan perkiraan lebar 100 km dan ketebalan 7 km. Teknik penanggalan radioaktif pada sampel granit yang ditemukan di permukaan mengkonfirmasi usia formasi ini sekitar 175 juta tahun, pada periode Jura.

Hubungan antara bongkahan granit di permukaan dengan formasi bawah tanah yang tersembunyi ini memecahkan misteri geologis yang telah berlangsung lama. Lebih lanjut, penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai pergerakan Gletser Pine Island di masa lalu, terutama saat lapisan es jauh lebih tebal. Pemahaman ini krusial untuk meningkatkan akurasi model komputer yang memprediksi perilaku lapisan es Antartika di tengah perubahan iklim dan dampaknya terhadap kenaikan permukaan air laut.

Dr. Tom Jordan, geofisikawan di BAS, menekankan pentingnya integrasi data geologi dan survei gravitasi. "Dengan menggabungkan penanggalan geologis dengan survei gravitasi, kita tidak hanya memecahkan misteri tentang asal usul batuan ini, tetapi juga mengungkap informasi baru tentang bagaimana lapisan es mengalir di masa lalu dan bagaimana hal itu mungkin berubah di masa depan," ujarnya.

Pemahaman mendalam tentang geologi di bawah Gletser Pine Island juga penting untuk menjelaskan kondisi terkini wilayah tersebut yang mengalami kehilangan es signifikan. Material batuan di bawah es memengaruhi laju luncuran es dan pergerakan air lelehan, yang keduanya berkontribusi pada prediksi kenaikan permukaan laut global.