Sebuah studi longitudinal terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Neuroscience & Fitness mengemukakan temuan signifikan mengenai dampak latihan kekuatan (resistance training) terhadap kesehatan otak pada populasi lanjut usia. Riset ini secara khusus menyoroti manfaat dari program latihan yang terstruktur dan dilakukan secara berkala, bukan hanya aktivitas fisik ringan.
Para peneliti dari Institut Geriatri dan Olahraga memantau 150 partisipan berusia antara 65 hingga 80 tahun selama periode enam bulan. Kelompok intervensi diwajibkan menjalani sesi latihan beban progresif dua kali seminggu, sementara kelompok kontrol melakukan latihan fleksibilitas ringan. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok latihan kekuatan mengalami peningkatan signifikan, rata-rata 15% hingga 20%, dalam tes fungsi eksekutif, termasuk memori kerja dan kemampuan untuk beralih tugas (task switching), dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Dr. Amelia Hartono, penulis utama studi, menjelaskan bahwa mekanisme yang mendasari peningkatan ini kemungkinan melibatkan peningkatan faktor neurotropik yang berasal dari otot yang ditingkatkan. "Saat otot berkontraksi secara intensif melawan resistensi, terjadi pelepasan molekul pensinyalan, yang dikenal sebagai miokin, yang mampu melintasi sawar darah otak dan memicu neurogenesis serta plastisitas sinaptik di area hippocampus dan korteks prefrontal," ujar Dr. Hartono dalam konferensi pers virtual.
Temuan ini memperkuat argumen bahwa latihan kekuatan harus diintegrasikan sebagai komponen penting dalam strategi pencegahan demensia dan penurunan kognitif terkait usia. Sebelumnya, fokus utama sering tertuju pada latihan aerobik (kardio), namun data baru ini menekankan bahwa stimulasi otot yang lebih berat memberikan keunggulan spesifik untuk mempertahankan kapasitas mental seiring bertambahnya usia.
Para ahli kesehatan publik kini mendesak para geriatri dan fisioterapis untuk mengadopsi protokol latihan kekuatan yang aman namun efektif, menekankan pentingnya form yang benar untuk memaksimalkan manfaat sistemik tanpa risiko cedera. Studi lanjutan akan meneliti durasi optimal dan intensitas untuk mempertahankan keuntungan kognitif ini dalam jangka panjang.