bytedaily - Dilansir dari bbc.com, Paris Saint-Germain (PSG) telah mengalami transformasi budaya yang dramatis dalam sepak bola modern sejak diambil alih oleh Qatar Sports Investments (QSI) pada tahun 2011. Pada saat itu, PSG merupakan klub raksasa yang tertidur, finis di peringkat ke-13 Ligue 1 musim sebelumnya, dan QSI sempat khawatir akan membeli klub divisi kedua. Kesepakatan akhirnya terwujud, namun klub tersebut sangat berbeda dari penantang Eropa modern yang dikenal saat ini.
Selama lebih dari satu dekade, PSG menjalani pembangunan kembali yang signifikan, tidak hanya dalam hal pengeluaran besar dan kedatangan bintang-bintang dunia, tetapi juga dalam membentuk kembali identitas klub. Perjalanan ini terbagi dalam beberapa fase, masing-masing memiliki kekurangan namun berkontribusi pada PSG yang sekarang.
Pada tahun 2011, PSG adalah sebuah paradoks: ibu kota Eropa yang kaya akan talenta, namun klub tanpa struktur, prestise, dan stabilitas. Mereka kekurangan bintang, model bisnis berkelanjutan, dan filosofi sepak bola yang jelas. Meskipun pernah diperkuat nama-nama besar seperti Ronaldinho, Pauleta, Ludovic Giuly, dan Claude Makelele di awal abad ke-21, PSG perlu membangun kredibilitas di mata dunia sepak bola sebelum bisa bersaing dengan klub-klub elit Eropa.
Pendukung ultras sempat dilarang selama lima tahun pertama era baru ini akibat kekerasan yang menyebabkan kematian seorang penggemar. Mereka baru kembali pada tahun 2016 ketika Nasser Al-Khelaifi, pemimpin negosiasi QSI, memutuskan bahwa mayoritas pendukung tidak dapat disalahkan atas tindakan segelintir orang.
Tahun-tahun awal QSI ditandai dengan pengeluaran agresif, yang dilabeli oleh para kritikus sebagai 'era bling-bling', namun secara internal dianggap sebagai cara tercepat untuk mencapai puncak. Seperti Newcastle dan Manchester City, PSG juga menghadapi pertanyaan tentang sumber pendanaan mereka dan tuduhan 'sportswashing', di mana negara berinvestasi dalam olahraga untuk memperbaiki citra mereka.
Kedatangan superstar global seperti Zlatan Ibrahimovic, Neymar, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi berhasil menempatkan PSG dalam percakapan global. Fase ini menghasilkan dominasi domestik dan performa impresif di Liga Champions, namun juga menciptakan ketegangan internal. Bintang-bintang besar mendikte dinamika ruang ganti, memengaruhi keputusan taktis, dan terkadang menutupi kolektivitas dengan perselisihan sepele mengenai jadwal latihan atau eksekusi penalti.
Contohnya, Kylian Mbappe yang berusia 18 tahun dan keluarganya menyatakan akan bergabung dengan PSG hanya jika dijamin bermain setiap pertandingan, sementara Neymar memiliki klausul dalam kontraknya yang memberinya hak untuk tidak ikut bepergian dalam beberapa pertandingan. Insiden lain terjadi ketika Neymar dan Mbappe ingin berlatih dengan antusiasme lebih saat kunjungan Kobe Bryant, berbeda dengan rencana pelatih Unai Emery yang menginstruksikan mereka untuk beristirahat. Meskipun Emery memenangkan pertempuran itu, bentrokan tersebut meninggalkan bekas luka.
Era ini berhasil membangun merek global PSG, namun juga mengungkap keterbatasan model yang berpusat pada bintang. Al-Khelaifi sendiri telah menyatakan secara publik bahwa era 'bling-bling' telah berakhir.
Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.