bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengakui adanya dampak trauma yang dialami oleh siswa-siswi SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, menyusul insiden keracunan makanan yang terjadi di sekolah tersebut. Trauma tersebut tidak hanya dirasakan oleh para siswa, tetapi juga oleh keluarga mereka.
Menanggapi kekhawatiran ini, Sudaryono menegaskan komitmen BGN untuk terus melakukan perbaikan dalam tata kelola Makanan Bergizi Gizi (MBG) guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. "Saya tahu, saya paham yang trauma bukan hanya siswa siswinya, tapi juga ada keluarga traumatis dan saya memahami itu dan kita akan terus perbaiki. Kejadian ini tidak boleh terulang kembali," ujar Sudaryono di Jakarta Selatan, Rabu (19/8).
Saat ini, fokus utama BGN adalah memberikan penanganan medis kepada siswa yang terdampak keracunan. Setelah proses pengobatan selesai, BGN akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan untuk langkah-langkah penanganan lanjutan.
Menurut Sudaryono, akar permasalahan keracunan MBG di SMAN 1 Berastagi adalah kelalaian dari Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) dalam hal pengolahan dan penyimpanan bahan pangan, khususnya ikan. Pengelola tidak menyimpan ikan di dalam freezer sebagaimana seharusnya.
Sebagai tindakan tegas, dapur sekolah ditutup sementara untuk investigasi, dan kepala SPPG dicopot dari jabatannya. BGN juga mempertimbangkan pemecatan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) bagi yang bersangkutan. "Dapurnya kami tutup untuk diinvestigasi. Kemudian kepala SPPG-nya kami copot. Karena ini kelihatan fatal, kami mempertimbangkan untuk kami lakukan pemecatan status PPPK-nya," jelas Sudaryono.
Investigasi kasus ini juga melibatkan pihak kepolisian, dan BGN menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama sepenuhnya jika ditemukan adanya unsur pidana.
Sudaryono turut mengingatkan para penerima MBG untuk mematuhi standar operasional prosedur (SOP), termasuk larangan membawa pulang makanan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas makanan dan mencegah potensi risiko kesehatan akibat penyimpanan yang tidak tepat, seperti yang pernah terjadi di mana makanan MBG yang dibagikan pagi hari baru dikonsumsi pada malam hari, sehingga dikhawatirkan bakteri telah berkembang meskipun tampilan makanan masih baik.