bytedaily
Jumat, 16 Oktober 2026 - 04:41 WIB

Trump Pertimbangkan Jay Clayton untuk Pimpin Koordinasi Kebijakan AI

Redaksi 03 Oktober 2026 16 views
Trump Pertimbangkan Jay Clayton untuk Pimpin Koordinasi Kebijakan AI
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir cnnindonesia.com, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berencana membentuk lembaga di Gedung Putih untuk mengoordinasikan kebijakan kecerdasan buatan (AI). Jay Clayton disebut telah dipilih sebagai calon pemimpin lembaga tersebut, tetapi Gedung Putih belum mengonfirmasi penunjukannya.

Dua sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan kepada CNN bahwa pengumuman mengenai Clayton dapat dilakukan paling cepat pada Jumat waktu setempat. Jika mengemban jabatan baru sebagai pejabat yang mengoordinasikan kebijakan AI, Clayton diperkirakan tetap menjalankan tugasnya sebagai Direktur Intelijen Nasional.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pengumuman terkait personel akan disampaikan langsung oleh Presiden. Menurut pejabat tersebut, pemberitaan sebelum pengumuman resmi masih berupa spekulasi. Trump sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa Clayton cocok untuk posisi itu.

Trump telah mengumumkan rencana pembentukan “AI Force” untuk memimpin kebijakan pemerintah terkait AI. Rencana tersebut muncul ketika dorongan agar pemerintah menetapkan batasan atas perkembangan teknologi itu semakin meningkat.

Pada Selasa (29/9), Trump bertemu dengan sejumlah CEO perusahaan teknologi dan AI di Gedung Putih. Pertemuan itu menghasilkan penandatanganan komitmen baru untuk mendorong perusahaan mengawasi model AI mereka secara mandiri.

Dalam kesempatan tersebut, Trump mengatakan dirinya hampir menentukan orang yang akan mengisi posisi itu dan memperkirakan keputusan dibuat dalam tiga atau empat hari. Ia juga menyebut masih ingin berkonsultasi dengan perusahaan teknologi dan pimpinan Partai Republik di DPR sebelum menetapkan pilihan.

Clayton pernah menjadi jaksa federal tertinggi di Manhattan dan memimpin Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) selama sebagian besar periode pertama pemerintahan Trump. Senat AS mengonfirmasinya sebagai Direktur Intelijen Nasional pada Juli 2026 untuk menggantikan Bill Pulte, yang sebelumnya menjabat pelaksana tugas direktur selama sekitar 40 hari.

Dalam uji kelayakan di Senat, Clayton menyebut AI sebagai teknologi yang menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Ia mengatakan pemahaman mendalam diperlukan untuk menghadapi teknologi yang memiliki kedua sisi tersebut.

Jika terpilih, Clayton akan menjadi orang kedua yang mengemban peran itu. Investor modal ventura David Sacks sebelumnya menjadi pejabat AI dan kripto Trump hingga Maret 2026. Ia mundur setelah masa tugasnya sebagai pegawai khusus pemerintah berakhir, tetapi tetap berpengaruh dalam kebijakan AI Trump dan menjabat wakil ketua Dewan Penasihat Presiden untuk Sains dan Teknologi.

Trump menyatakan ingin mengejar ketertinggalan Amerika Serikat dari China dalam pengembangan AI serta mempertahankan keuntungan ekonomi dari teknologi tersebut. Pemerintah AS juga menghadapi desakan untuk memperkuat pengawasan terhadap perkembangan AI.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.