bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, Kelompok Wanita Tani (KWT) Anjani yang memiliki lahan singkong seluas sekitar 7.800 meter persegi kini mendapatkan bantuan pengembangan usaha dari Universitas Mercu Buana (UMB) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). Bantuan ini bertujuan untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi KWT Anjani, seperti keterbatasan kapasitas produksi, tantangan pemasaran, dan pengelolaan keuangan.
Program PKM yang dilaksanakan pada 3-4 Agustus 2026 ini mencakup pendampingan dalam teknologi produksi, strategi pemasaran digital, serta manajemen keuangan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program yang mendapatkan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk tahun anggaran 2026.
KWT Anjani sendiri telah berupaya mengolah singkong menjadi berbagai produk seperti keripik getuk, tepung tapioka, dan tepung mocaf yang sudah dipasarkan kepada masyarakat. Namun, peningkatan kapasitas produksi dan perbaikan manajemen usaha masih menjadi prioritas.
Ketua tim PKM UMB, Sri Marti Pramudena, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya fokus pada pelatihan, tetapi juga mendorong KWT Anjani untuk mengadopsi teknologi guna meningkatkan efisiensi operasional. "Melalui kegiatan PKM ini kami ingin membantu KWT Anjani meningkatkan kemampuan produksi, pemasaran, dan manajemen usaha," ujar Sri Marti.
Dalam aspek produksi, tim PKM UMB memperkenalkan berbagai peralatan baru, termasuk sarana penjemuran, mesin pengemas kontinu (continuous sealer), alat pemeras pati singkong untuk produksi tapioka, dan nampan penjemuran. Penggunaan peralatan ini diharapkan dapat mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan kepraktisan dan kehigienisan pengolahan.
Selain itu, KWT Anjani juga dibekali pelatihan pemasaran digital melalui platform TikTok dan Instagram. Materi pelatihan mencakup pembentukan identitas merek, desain logo, kemasan produk, hingga cara efektif menyampaikan informasi produk di media sosial. "Kami berharap KWT Anjani tidak hanya mampu meningkatkan kualitas dan jumlah produksi, tetapi juga dapat memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran," tambah Sri Marti.
Manajemen keuangan menjadi salah satu fokus pendampingan lainnya. Tim PKM UMB membantu KWT Anjani dalam mencatat transaksi secara lebih terstruktur, menghitung harga pokok produksi, menentukan harga jual yang tepat, dan menghitung keuntungan, yang sebelumnya masih dilakukan dengan metode pencatatan sederhana.
Ketua KWT Anjani, Tri Wahyuni, menyambut baik program pendampingan ini dan berharap dapat meningkatkan produksi serta memperluas jangkauan pemasaran produk mereka. "Kami berharap ilmu dan teknologi yang diberikan dapat membantu meningkatkan produksi dan pemasaran. Kami juga ingin produk keripik getuk dan tepung tapioka dikenal lebih luas," ungkap Tri.
Program PKM ini melibatkan dosen UMB seperti Sri Marti Pramudena, Eka Nur Fitriani, dan Santa Lorita, bersama dengan mahasiswa Program Studi Manajemen. Tim juga akan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk memastikan keberlanjutan penerapan pengetahuan dan teknologi yang telah diberikan.
Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi, penguasaan pemasaran digital, dan perbaikan manajemen keuangan, KWT Anjani diharapkan mampu memperluas pasar produk olahan singkong mereka dan meningkatkan nilai ekonominya.