bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah video YouTube yang diunggah pada tahun 2017 menjadi kunci penemuan ilmiah penting mengenai keberadaan kucing pasir (Felis margarita) di Libya. Video berdurasi pendek itu, yang diambil oleh fotografer Mohammed Almuntasir, memperlihatkan seekor kucing pasir meringkuk di bawah semak gurun Libya. Rekaman ini, hampir satu dekade setelah pertama kali diambil, akhirnya dikonfirmasi sebagai bukti dokumentasi pertama yang menunjukkan kucing pasir sebagai spesies asli Libya.
Mohammed Almuntasir, yang mengambil video tersebut, menyatakan bahwa ia langsung mengenali hewan itu sebagai kucing pasir karena pernah melihatnya beberapa kali di malam hari. Saat itu, ia tidak menyadari nilai ilmiah dari rekaman tersebut dan mengira kucing gurun yang berukuran kecil ini, yang umumnya memiliki panjang maksimal 57 cm dan berat 3,5 kg, sudah pernah terdokumentasi secara resmi di negaranya.
Menurut Firas Hayder, seorang pakar karnivora kecil Afrika Utara, meskipun ada beberapa laporan samar dari pertengahan abad ke-20, keberadaan kucing pasir sebagai spesies asli Libya belum pernah terverifikasi secara resmi. Spesies ini lebih umum dikaitkan dengan wilayah Sahara di negara Afrika Utara lain seperti Maroko, serta Asia Barat Daya dan Asia Tengah.
Hayder mengungkapkan keterkejutannya ketika menghubungi Almuntasir setelah video tersebut diunggah. Almuntasir mengonfirmasi bahwa video itu direkam di Al-Hamada Al-Hamra, gurun Libya yang berbatasan dengan Tunisia. Sejak itu, keduanya berkolaborasi untuk mengumpulkan semua catatan dokumentasi keberadaan kucing pasir di Libya. Upaya ini menghasilkan penelitian berjudul 'Rediscovering desert ghosts' yang diterbitkan di Journal of Arid Environments pada Februari tahun ini.
Penelitian yang melibatkan tujuh peneliti ini dipimpin oleh Hayder dari jarak jauh, yang mengarahkan Almuntasir dalam mencatat koordinat GPS di setiap lokasi penemuan kucing pasir. Almuntasir bekerja sama dengan pemandu lokal untuk melacak dan mengamati hewan tersebut. Kucing pasir, yang aktif berburu tikus dan reptil di malam hari serta memiliki kemampuan menggali yang baik, menghabiskan siang hari di dalam lubang tanah dan mengubur sisa makanan. Mereka mampu bertahan hidup hanya dari cairan tubuh mangsanya karena kelangkaan air di gurun. Sifat misterius, kemampuan kamuflase alami, serta kebiasaan menjelajah jarak jauh dan jejak kaki yang cepat terhapus oleh angin gurun, menjadikan spesies ini sangat minim diteliti. Bahkan, foto anak kucing pasir di alam liar baru berhasil diabadikan untuk pertama kalinya pada tahun 2017 di Maroko oleh Dr. Grégory Breton.