bytedaily
Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:29 WIB

WANTRII Dorong Pedoman Etika AI dan Keamanan Siber untuk Industri

Redaksi 14 Oktober 2026 5 views
WANTRII Dorong Pedoman Etika AI dan Keamanan Siber untuk Industri
Ilustrasi visual (Sumber referensi: ekonomi.republika.co.id)

bytedaily - Melansir laporan dari ekonomi.republika.co.id, adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor manufaktur dinilai perlu disertai penguatan keamanan siber. Teknologi ini berpeluang meningkatkan produktivitas, tetapi juga membawa risiko serangan yang perlu diantisipasi dalam proses transformasi digital.

Ketua Dewan Transformasi Digital Industri Indonesia (WANTRII), Fadli Hamsani, mengatakan keberhasilan transformasi industri tidak cukup diukur dari penggunaan teknologi. Perusahaan juga perlu menilai dampaknya terhadap produktivitas dan daya saing serta menyiapkan mitigasi risikonya. Hal itu disampaikan Fadli dalam Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Fadli menyebut transformasi industri perlu mencakup tiga aspek: sumber daya manusia, proses bisnis, dan teknologi. Kompetensi pekerja perlu ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan. Pelaku industri juga perlu berbagi praktik baik, sementara perusahaan harus menilai dampak teknologi terhadap operasional dan produktivitas.

Sejak peta jalan Making Indonesia 4.0 diluncurkan pada 2018, lebih dari 1.300 perusahaan telah menjalani penilaian kesiapan melalui Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Kementerian Perindustrian juga memiliki 29 national lighthouse yang diharapkan menjadi contoh penerapan transformasi industri.

Menurut Fadli, penggunaan AI di Indonesia, khususnya di tingkat perusahaan, masih pada tahap awal. Ia mengutip data McKinsey yang menyebut sekitar 85 persen adopsi AI secara global digunakan untuk mendukung pekerjaan manusia, sedangkan pemanfaatannya di tingkat perusahaan berada di kisaran 30 persen.

WANTRII bersama para pemangku kepentingan mendorong penyusunan pedoman etika AI untuk industri serta panduan keamanan siber. Pedoman tersebut diharapkan membantu perusahaan menggunakan teknologi dengan lebih aman dan memperluas pemanfaatannya.

Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI, Muhammad Neil El Himam, menjelaskan AI memiliki tiga peran dalam konteks keamanan siber: teknologi untuk meningkatkan produktivitas, alat yang dapat digunakan pelaku kejahatan, dan teknologi yang bisa menjadi sasaran serangan.

Neil mengatakan AI dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja, tetapi juga dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan serangan siber serta membuat serangan berlangsung lebih cepat dan efisien. Ia menekankan perlunya meningkatkan kesadaran sumber daya manusia agar penggunaan AI disertai mitigasi risiko dan kesiapan menghadapi serangan yang memanfaatkan teknologi tersebut.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media ekonomi.republika.co.id menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.