bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, arisan merupakan metode umum yang digunakan masyarakat untuk mengumpulkan dana bersama. Namun, praktik ini rentan disalahgunakan untuk penipuan dengan menawarkan imbalan yang tidak realistis.
Perencana keuangan Andi Nugroho mengingatkan bahwa keuntungan yang ditawarkan arisan bodong seringkali tidak masuk akal, bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari setoran dalam waktu singkat. Ia menekankan pentingnya mencermati hal ini sebelum bergabung.
Sementara itu, perencana keuangan Budi Rahardjo menambahkan bahwa modus arisan bodong bisa menjadi kedok skema ponzi atau investasi ilegal. Ciri khasnya adalah pengelola yang secara agresif mencari anggota baru, berbeda dengan arisan pada umumnya yang biasanya diikuti oleh orang-orang yang sudah saling mengenal.
Tanda-tanda lain yang patut diwaspadai adalah admin yang tidak mampu menjelaskan mekanisme arisan secara jelas, termasuk cara penentuan pemenang. Andi juga menyebutkan bahwa admin yang berusaha menutupi identitas anggota lain merupakan indikasi bahaya.
Untuk menghindari arisan bodong, Andi menyarankan agar sebisa mungkin mengikuti arisan yang pesertanya sudah dikenal. Jika belum saling mengenal, disarankan untuk berkomunikasi dan berkenalan terlebih dahulu dengan calon anggota lain. Admin yang sulit dihubungi atau memberikan penjelasan yang tidak memadai juga patut dicurigai. Grup WhatsApp yang terkunci sehingga hanya admin yang bisa mengirim pesan juga menjadi tanda peringatan.
Tanda yang lebih serius muncul ketika pembayaran mulai tertunda. Andi menjelaskan bahwa admin yang menunda jadwal pencairan, bahkan menghilang saat jatuh tempo, merupakan indikator kuat arisan bermasalah. Budi menambahkan bahwa keterlambatan pembayaran menunjukkan sistem arisan sudah gagal.
Andi kembali menegaskan agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan janji keuntungan besar dalam waktu cepat. Penting untuk memastikan admin dapat menjelaskan skema arisan secara transparan dan logis. Selain itu, memilih arisan dengan anggota yang sudah dikenal dan melakukan komunikasi antaranggota sebelum bergabung sangat disarankan.
Menurut Andi, arisan bodong masih banyak memakan korban karena sebagian masyarakat tergiur keuntungan instan dan minimnya literasi keuangan terkait pengelolaan uang dan investasi.