bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, sebuah demonstrasi di IBM Industry 4.0 Studio, Singapura, menampilkan bagaimana kecerdasan buatan (AI) mulai mengarahkan pekerjaan, memprioritaskan kebutuhan kota, dan meningkatkan respons medis. Dalam simulasi pemeriksaan gangguan sistem IBM z17, AI memandu pengguna langkah demi langkah dengan menyajikan informasi dari berbagai sumber seperti manual dan video secara ringkas.
Teknologi AI ini tidak hanya sebatas chatbot, melainkan diintegrasikan langsung ke dalam pekerjaan. Contohnya, robot anjing yang dilengkapi sensor dan AI generatif multimodal mampu mendeteksi ancaman dan menemukan pekerja yang terjebak di area berbahaya dengan membaca kondisi visual, suara, dan lingkungan.
Selain itu, AI juga digunakan untuk memeriksa komponen kendaraan, mendeteksi cacat pada komponen memori, serta memantau panel surya melalui drone. Menurut General Manager IBM Manufacturing Solutions Ong Tun Kim, demo-demo ini didasarkan pada kasus nyata klien dan tantangan operasional sehari-hari mereka. IBM bekerja sama dengan klien untuk memetakan persoalan dan menyusun peta jalan transformasi, sehingga setiap sistem disesuaikan dengan kebutuhan industri dan pengguna spesifik.
Pergeseran fokus kini terjadi dari kemampuan AI menghasilkan teks dan gambar ke implementasinya dalam organisasi, kolaborasi dengan manusia, dan pengambilan keputusan yang efektif. Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Josephine Teo, menyoroti perbedaan antara penggunaan AI oleh individu dan kemampuan organisasi untuk menciptakan dampak ekonomi nyata. Produktivitas personal tidak secara otomatis berujung pada peningkatan produktivitas perusahaan atau pemerintah.
Singapura berupaya mendorong AI masuk ke dalam proses bisnis untuk mengubah cara kerja organisasi dan menciptakan nilai yang terukur. Pemerintah negara tersebut memusatkan perhatian pada empat sektor utama: manufaktur, kesehatan, keuangan, dan konektivitas, yang secara kolektif menyumbang sekitar 40 persen produk domestik bruto Singapura. AI kini diposisikan sebagai lapisan baru yang menghubungkan data, institusi, dan pengambilan keputusan, termasuk potensinya dalam layanan publik untuk memetakan kebutuhan.