bytedaily
Senin, 06 Juli 2026 - 23:31 WIB

AI Percepat Pencarian Obat untuk Penyakit Saraf, Harapkan Terobosan dalam Hitungan Tahun

Redaksi 24 Mei 2026 13 views
AI Percepat Pencarian Obat untuk Penyakit Saraf, Harapkan Terobosan dalam Hitungan Tahun
Ilustrasi visual (Sumber: bbc.com)

bytedaily - Dilansir dari bbc.com, para ilmuwan di Inggris kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat penemuan pengobatan bagi kondisi neurologis yang mungkin selama ini terabaikan. Para peneliti di UK Dementia Research Institute di Edinburgh sedang menganalisis data pasien, termasuk rekaman suara dan pemindaian mata, serta sel otak yang dikultur di laboratorium, untuk mengidentifikasi apakah obat-obatan yang sudah ada dapat digunakan kembali untuk mengobati penyakit seperti motor neurone disease (MND).

Para ilmuwan berharap dengan menggunakan algoritma untuk mendeteksi pola penyakit dan memprediksi obat yang cocok, pengobatan yang efektif dapat ditemukan dalam 'hitungan tahun, bukan dekade'. Harapan ini juga dirasakan oleh Steven Barrett, seorang peserta uji coba yang didiagnosis menderita MND 10 tahun lalu. Steven, yang sebelumnya merencanakan masa pensiun aktif setelah karier panjang di sektor sipil, mulai merasakan mati rasa di kakinya sebelum akhirnya didiagnosis MND, sebuah kondisi neurologis degeneratif yang belum memiliki obat.

Steven menggambarkan MND sebagai 'penyakit yang mengerikan' yang merenggut jati diri dan masa depan seseorang. Ia menceritakan bagaimana keluarganya tidak menduga penyakit ini datang, sambil menunjukkan foto-foto dirinya di masa lalu. Namun, ia menyebut uji coba ini sebagai 'cahaya terang' harapan bagi dirinya dan penderita MND atau kondisi serupa lainnya. Salah satu uji coba yang dijalani adalah MND-SMART, di mana beberapa obat diuji secara bersamaan, berbeda dengan metode tradisional yang membandingkan kelompok pengobatan dengan plasebo.

Steven menyatakan bahwa penelitian ini lebih dari sekadar mengonsumsi pil; ini adalah upaya untuk mendapatkan hasil yang mungkin membantu dirinya atau orang lain. Institut tersebut juga tengah membangun basis data penderita kondisi seperti Parkinson, Demensia, dan MND. Para klinisi mengumpulkan pemindaian iris, rekaman suara, dan memanfaatkan AI untuk mengolah data guna mendeteksi perubahan yang mungkin menjadi indikator awal masalah di masa depan. Sampel darah dari pasien sukarela juga dikumpulkan untuk dikembangkan menjadi sel-sel otak yang disebut neuron.

Obat-obatan yang sudah ada kemudian diuji pada berbagai kelompok neuron menggunakan kombinasi robot, peralatan laboratorium tradisional, dan komputer yang menjalankan algoritma khusus. Algoritma machine learning ini dilatih untuk mengidentifikasi obat yang berpotensi mengubah 'jejak penyakit neurologis' menjadi sehat. Obat-obatan yang disarankan oleh AI kemudian dapat dimasukkan ke dalam uji klinis yang melibatkan pasien seperti Steven. Saat ini, terdapat sekitar 1.500 obat yang telah dikembangkan dan disetujui untuk mengobati kondisi lain.

Profesor Siddarthan Chandran, kepala eksekutif Institut, mengatakan bahwa sangat mungkin salah satu dari obat-obatan tersebut juga efektif untuk otak tanpa disadari. Ia menjelaskan bahwa otak adalah organ paling kompleks di tubuh, dan hingga kini metode penelitian yang digunakan kurang canggih. Namun, kombinasi AI dan teknologi baru memungkinkan penelitian yang sebelumnya tidak terbayangkan. Mengingat obat-obatan tersebut sudah ada dan disetujui, penggunaannya kembali dinilai lebih praktis dibandingkan memulai dari nol dengan formula baru. Penemuan obat baru dan proses pemasarannya dapat memakan waktu lebih dari 10 tahun, namun Prof Chandran dan timnya optimistis dengan pendekatan baru ini.


Sumber asli: Artikel ini disadur dari publikasi bbc.com.