bytedaily
Rabu, 01 April 2026

Ancaman 'Pukulan Ganda' dan Kebijakan The Fed Tekan Harga Emas ke Jurang Terendah Sejak 1983

Redaksi 24 Maret 2026 25 views
Ancaman 'Pukulan Ganda' dan Kebijakan The Fed Tekan Harga Emas ke Jurang Terendah Sejak 1983
Ilustrasi: Ancaman 'Pukulan Ganda' dan Kebijakan The Fed Tekan Harga Emas ke Jurang Terendah Sejak 1983

bytedaily - Harga emas anjlok drastis, menyentuh level terendah sejak Desember 2025 dan mencatat penurunan mingguan terbesar dalam empat dekade terakhir atau sejak 1983. Penurunan tajam ini, yang menempatkan harga di bawah 4.200 dolar AS per troy ons, dipicu oleh kombinasi situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

Sentimen pasar saat ini digambarkan mengalami 'pukulan ganda' yang melibatkan guncangan likuiditas dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai aset 'safe haven' atau pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi, kali ini pergerakannya justru berlawanan arah.

Berbeda dengan krisis emas tahun 1983 yang dipicu oleh negara produsen minyak yang menjual cadangan emas untuk menopang devisa akibat jatuhnya harga minyak, penurunan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh strategi pengelolaan ekspektasi oleh Federal Reserve AS. Kenaikan suku bunga acuan The Fed, bahkan dalam ekspektasi, secara efektif meningkatkan biaya kepemilikan emas dan menekan permintaan investor.

Analis menyoroti bahwa penentu utama pergerakan harga emas dalam jangka pendek bukanlah sentimen 'safe haven', melainkan pergerakan suku bunga riil dan kinerja Dolar AS. Penurunan harga emas ini dianggap sebagai koreksi dari lonjakan yang dinilai berlebihan sebelumnya, yang didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga, sekaligus sebagai penyesuaian rasional terhadap lingkungan suku bunga riil yang cenderung menguat.

Pergerakan harga emas mengalami volatilitas ekstrem dalam beberapa waktu terakhir. Setelah sempat mencapai rekor tertinggi mendekati 5.600 dolar AS per ons pada Januari 2026, emas kini telah merosot sekitar 26 persen dari puncaknya. Perak pun tak luput dari tren penurunan, dengan harga per ons ambruk 8,3 persen menjadi 62,2 dolar AS.