bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, fenomena gempa bumi yang terjadi setiap hari, baik dalam skala kecil maupun besar, telah menarik perhatian manusia sejak lama. Sebelum perkembangan ilmu pengetahuan mengenai Bumi, kepercayaan masyarakat kuno sangat beragam. Di Nusantara, khususnya Jawa dan Bali, gempa diyakini disebabkan oleh pergerakan kura-kura raksasa atau naga yang memikul Bumi. Sementara itu, di India kuno, gempa dipercaya terjadi ketika hewan-hewan seperti gajah atau ular yang menyeimbangkan Bumi berganti posisi.
Menurut informasi dari cnnindonesia.com, Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang hidup pada 384-322 sebelum Masehi, dianggap sebagai individu pertama yang mencoba menjelaskan fenomena gempa bumi melalui pendekatan ilmiah. Ia berhipotesis bahwa angin yang terperangkap di dalam Bumi mendesak keluar dan menyebabkan guncangan atau getaran di permukaan tanah. Dalam karyanya yang berjudul Meteorologica, Aristoteles mengategorikan gempa bumi bersama dengan fenomena atmosfer lainnya seperti petir, badai, dan komet.
Perkembangan signifikan dalam pemahaman gempa bumi terjadi setelah serangkaian lima gempa kuat mengguncang Inggris pada tahun 1750. Puncak peristiwa ini adalah gempa dahsyat dan tsunami yang melanda Lisbon, Portugal, pada 1 November 1755, yang menewaskan sekitar 70.000 orang dan meratakan kota. Peristiwa tragis ini menandai dimulainya era modern seismologi, yang mendorong penelitian lebih mendalam mengenai dampak, lokasi, dan waktu terjadinya gempa.
Sebelum gempa Lisbon, para cendekiawan lebih banyak merujuk pada penjelasan dari sumber-sumber klasik seperti Aristoteles dan Plinius. Namun, pasca-gempa Lisbon, pendekatan ilmiah yang didasarkan pada pengamatan modern mulai mendominasi. Studi mengenai waktu, lokasi, dan dampak fisik gempa bumi mulai digalakkan, dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti John Michell di Inggris dan Elie Bertrand di Swiss.
Seiring dengan meningkatnya komunikasi global, pengamatan gempa dari berbagai belahan dunia dapat dikumpulkan. Laporan Maria Graham mengenai perubahan ketinggian garis pantai Chile setelah gempa tahun 1822 menjadi salah satu contoh awal. Pengamatan ini kemudian dikonfirmasi oleh Robert FitzRoy, kapten HMS Beagle, setelah gempa Chile tahun 1835, di mana Charles Darwin juga turut serta dalam pemeriksaan geologi.
Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert, setelah mempelajari patahan akibat gempa Owens Valley, California pada tahun 1872, menyimpulkan bahwa patahan merupakan ciri utama gempa, bukan sekadar akibat dari ledakan bawah tanah seperti yang umum dipercaya sebelumnya. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 juga menjadi periode dimulainya penyelidikan ilmiah gempa oleh para peneliti Jepang, termasuk Seikei Sekiya yang menjadi profesor pertama di bidang seismologi.