bytedaily
Jumat, 26 Juni 2026 - 18:35 WIB

Budidaya Ganja Dalam Ruangan Picu Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan

Redaksi 26 Juni 2026 3 views
Budidaya Ganja Dalam Ruangan Picu Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan
Ilustrasi visual (Sumber referensi: cnnindonesia.com)

bytedaily - Melansir laporan dari cnnindonesia.com, industri budidaya ganja, khususnya yang dilakukan di dalam ruangan tertutup, ternyata berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang dampaknya terhadap perubahan iklim global seringkali terabaikan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal One Earth oleh Evan Mills, seorang peneliti di Lawrence Berkeley National Laboratory, mengungkapkan bahwa rantai produksi ganja di Amerika Serikat menghasilkan sekitar 44 juta ton CO2 per tahun. Jumlah emisi ini setara dengan 10 juta kendaraan atau 6 juta rumah tangga, yang merepresentasikan kurang lebih 1 persen dari total emisi nasional AS.

Mills menjelaskan bahwa penggunaan fasilitas tanpa jendela dan rumah kaca berteknologi tinggi untuk budidaya ganja sangat boros energi. Sekitar dua pertiga dari total produksi ganja di AS, baik legal maupun ilegal, ditanam di dalam ruangan yang memerlukan pencahayaan buatan, sistem pengaturan suhu dan kelembapan, serta irigasi yang semuanya membutuhkan daya listrik besar. Sekitar 90 persen emisi industri ini berasal dari operasi budidaya dalam ruangan tersebut.

Konsumsi listrik oleh industri ganja bahkan disebut melampaui sektor penambangan mata uang kripto dan gabungan seluruh sektor pertanian lainnya. Bagi konsumen ganja hasil budidaya dalam ruangan, jejak karbon dari kebiasaan tersebut dapat mencapai hampir separuh dari total konsumsi energi rumah tangga mereka.

Studi lain dari Colorado State University yang diterbitkan di jurnal Nature Sustainability menunjukkan bahwa di Colorado, budidaya ganja dalam ruangan menyumbang sekitar 1,7 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan negara bagian itu. Kontributor utama emisi ini adalah sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC), lampu tanam berintensitas tinggi, serta penambahan karbon dioksida untuk mempercepat pertumbuhan.

Studi tersebut juga membandingkan emisi ganja dengan produk konsumsi lainnya. Emisi dari 0,1 gram ganja, atau sekitar sepertiga lintingan, diperkirakan lebih besar daripada emisi dari segelas bir, anggur, minuman keras, kopi, atau sebatang rokok. Selain itu, lokasi budidaya juga mempengaruhi skala emisi, di mana produksi satu ons ganja kering di Hawaii menghasilkan emisi setara dengan membakar sekitar 60 liter bensin, lebih dari dua kali lipat dibandingkan di California.


Disclaimer Hukum: Artikel ini merupakan hasil saduran otomatis dari media cnnindonesia.com menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan tetap mengedepankan Kode Etik Jurnalistik untuk menghindari plagiarisme. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung atau tidak langsung akibat informasi ini. Untuk membaca naskah asli, silakan kunjungi tautan berikut.