bytedaily - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengumumkan peluncuran inovasi pembiayaan bernama Finquest, sebuah strategi terobosan yang dirancang untuk mempercepat modernisasi infrastruktur dan layanan karantina di seluruh penjuru negeri. Inisiatif ini bertujuan mengintegrasikan berbagai sumber pendanaan, mengurangi ketergantungan semata-mata pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Barantin, Benny Alamsyah, menjelaskan bahwa Finquest akan menghimpun dana dari APBN, Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN), Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), serta investasi swasta. Transformasi ini mencakup lima area kunci: pembiayaan, modernisasi infrastruktur, digitalisasi layanan, penguatan biosekuriti, dan reformasi tata kelola.
Realisasi awal transformasi pembiayaan melalui Finquest telah menunjukkan hasil pada tahun 2025 dengan revitalisasi peralatan laboratorium di 18 unit pelaksana teknis senilai Rp34,45 miliar. Menyongsong tahun 2026, Barantin mengalokasikan dana sebesar Rp307 miliar, termasuk Rp79 miliar dari SBSN, yang akan dialokasikan untuk pembangunan instalasi, laboratorium, peralatan, dan peningkatan sarana layanan, menegaskan komitmen Barantin untuk menciptakan sistem karantina yang modern, adaptif, dan terintegrasi.